Uncategorized

Cara Pandang

Ternyata segala hal memang berawal dari cara pandang kita memandang kehidupan dan oranglain.

Beberapa waktu lalu sebelum sempat memasuki Kanwil, beberapa (atau bahkan banyak) teman bercerita, tentang betapa tidak produktifnya Kanwil, betapa banyak orang-orang tua yang kolot disana, betapa uselessnya kita kelak tanpa secuilpun pekerjaan. Segalanya serba tak menyenangkan.

Awal memasuki Kanwil, mindset sudah dipaksa tersetting seperti itu, seperti yang diceritakan teman-teman, persis. Kanwil tak enak. Kanwil tak menyenangkan. Tapi segalanya berubah seiring waktu, seiring makin lamanya bersosialisasi disana.

Tentu, sesungguhnya sejatinya bergantung pada cara pandang kita.

Bagi kami -atau setidaknya bagiku- Kanwil adalah salah satu tempat ojt terbaik.

Disana kami disambut dengan seorang ibu yang baik. Super ramah dan sabar. Untuk kemudian diamanahi melakukan penelaahan atas RKAKL yang beratus-ratus lembar itu. Amazing. Itu sebuah ‘penghormatan’ bagi kami, mengetahui bahwa pegawai-pegawai disana mempercayakan itu pada kami. Kami semangat sekali menyelesaikannya, meski tertatih-tatih. Salah seorang temanku mengajukan sebuah usulan konsep dasar untuk evaluasi kedepannya. Sederhana, namun berguna. Kepala bagian disana berterimakasih sekali atas usulan kami, mengatakan bahwa ini lebih tinggi dari ekspekstasinya. Diluar bahwa mungkin beliau terlalu berlebihan dalam memuji kami, kami bersyukur, mengetahui bahwa hasil kerja kami dihargai.

Perkataan beberapa teman tentang betapa menyebalkannya Kanwil tidak terbukti.

Kanwil menyenangkan. Para pegawai ramah. Pekerjaannya menantang.

Setidaknya, kali ini belajar bahwa, jangan telan mentah-mentah omongan oranglain –sekalipun ia temanmu– tentang sikap atau sifat orang lain yang bahkan kita bertemu pun belum.

Kita tak pernah tahu, bagaimana sesungguhnya ia. Jangan kadung mengotori pikiranmu dengan judge bahwa semua itu benar.

Tentu, kau bisa men-set sendiri pikiran dan hatimu bahwa sejatinya masih banyak pelajaran yang diambil dari tiap orang, seburuk apapun ia.

Dengan senyuman tulus, ketahuilah, bahwa mereka akan membalas senyum kita.

Dengan hati rendah hati dan menghargai, mereka juga balas menghargai kita.

Jadilah pribadi yang hangat, yang selalu berbuat baik pada orang lain meski orang lain mungkin tak melakukannya pada kita.

Tak peduli pada bagaimana sejatinya sikap mereka atau perlakuan mereka yang mungkin buruk sebagaimana kesaksian oranglain, jangan dipedulikan. Kosongkan gelasmu. Gali sebanyaknya kebaikan mereka, jangan berfokus pada keburukannya.

Sesungguhnya insan beriman selalu mencari celah kebaikan orang lain, dibanding menumpuk keburukan. Disamping mengotori hati, itu juga merugikan diri kita sendiri.

Salam hangat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s