Uncategorized

Tsabbit Qalbi ‘alaa Hifdzi Kitaabik

Ini pertama kalinya dalam sejarah, semenjak bukan lagi santri mulazamah Nurul Hikmah, bisa setoran hafalan dua halaman baru. Dulu semasa masih di NH ( Pesantren Quran Nurul Hikmah-red), setoran dua, tiga, bahkan empat halaman adalah hal biasa. Lain dulu, lain sekarang. Setelah lingkungan NH sudah sangat jauh dari jangkauan, jangankan setoran dua halaman. Satu halaman pun rasanya sulit sekali.

Perjuangan untuk terus menghafal setelah tak lagi di Nurul Hikmah rasanya begitu berat. Kadang muncul bisikan “Apa sih tujuan utamamu menghafal?” atau “Buat apa sih kamu sebetulnya menghafal?”, “Bukankah tak ada yang menyuruhmu? Bukankah nanti juga lupa lagi?”. Dan, ya. Sayangnya aku tahu betul itu hanya kelebatan bisikan tak berarti. Menghafal adalah project seumur hidup. Menghafal adalah proses menuju bagian menjadi keluarga Allah. Menghafal akan menjadikan diri ini dibela oleh surah Al-baqarah dan Ali-Imran saat yaumul hisab kelak.

Maka meski tak memungkinkan untuk mukim sebagai santri dewasa mulazamah lagi di Nurul Hikmah, usahaku untuk bisa tetap menghafal harus terus berpadu. Sepekan sekali datang ke Nurul Hikmah di Ciputat dan menyetorkan seayat-dua ayat yang mampu dihafal. Sungguh, ini memang jauh dari target. Tapi inilah proses. Hari-hari ketika dahulu di NH mampu menghafal empat halaman dalam sehari, dengan sekarang yang dalam sepekan pun belum tentu bertambah satu halaman, sungguh nampak sebagai perbedaan bak langit dan bumi. Tertatih, terjatuh, bangkit kembali.

Proses ini akan terus berlanjut semampu yang kubisa.

Biasanya, Sabtu pagi aku berangkat dari Cempaka Putih, dan kembali lagi ke Cempaka Putih ahad sore. Sungguh jika ingin tak pergi ke NH, banyak alasan yang bisa dicipta. Banyak pembenaran yang dapat dilakukan untuk tak perlu ke Ciputat sepekan sekali. “Buat apa?”, “Kamu kan banyak urusan yang hanya bisa diselesaikan di weekend, nggak perlu ke NH”, “Kamu kan butuh istirahat setelah lima hari full time di kantor”, atau “Kamu kan nggak punya ayat yang siap disetorkan ke ustadz”. Tapi, Demi untuk bisa menjadi hafidzah, segala proses ini rasanya nikmat sekali.

Katakanlah, mungkin bisa saja aku setoran pada temanku sendiri. Teman liqo. Teman kost. Atau teman di kantor. Banyak alternatifnya, tak perlu jauh-jauh ke Ciputat yang cukup menyita waktu dan tenaga “hanya” untuk bisa setoran pada ustadz Muzzammil.

Tapi semua itu tak sebanding. Setoran pada teman tak menumbuhkan ghiroh. Dan tentu saja, dengan sepekan sekali ke Nurul Hikmah, hati ter-recharge kembali untuk dapat terus menghafal. Melihat teman-teman berjuang merenda mahkota cahaya itu, hati meleleh. Sejauh manakah perjuanganku. Sejauh manakah usahaku. Lebih-lebih mendengarkan suara anak-anak NH yang usianya berbilang sangat belia melafalkan lafazh quran tanpa membaca. Usia mereka masih usia SD, namun hafalan mereka sudah belasan juz.

Sungguh rutin ke NH tiap pekan adalah sebuah kenikmatan perjuangan menuju seorang Ahlul Quran.

Allah, saksikan inilah upayaku. Saksikan, meski hasilnya sungguh jauh dari harapanku sendiri, terlebih dari ingin-Mu. Saksikan, meski sepekan sekali hadir di Nurul Hikmah terkadang sama sekali tak membuahkan hasil. Saksikan, bahwa sesungguhnya seluruh proses ini adalah sebentuk mujahadah untuk dapat menjadi keluarga-Mu. Saksikanlah, inilah yang mampu kulakukan sebagai upaya untuk istiqamah dalam menghafal surat cinta-Mu.

Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘ala hifdzi kitaabik..