Uncategorized

DTU-MFD: Samaptanya DJPB (Part II, Let’s Rock!)

Akhirnya, setelah perjalanan kurang lebih tiga jam Jakarta-Bogor, sudah termasuk saling tunggu-menunggu dan-lain-lain, pukul 11.30 WIB sampailah kami di Gadog, Puncak, Bogor: Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan. Alhamdulillah. FYI, sebenarnya kalau lancar tanpa hambatan, by APTB, kurang dari satu setengah jam sudah bisa sampai di Gadog.

Pertama, kami diminta menunggu terlebih dahulu untuk kemudian registrasi. Setelah registrasi selesai, agenda selanjutnya adalah cek kesehatan. Kami dibagi menjadi dua kelompok besar: satu kelompok cek kesehatan di gedung Anggrek dan kelompok lainnya di gedung Anyelir. Alhamdulillah, peserta perempuan didahulukan, jadi segera setelah itu bisa prepare buat hal-hal yang lain.

Cek kesehatan selesai. Nah, seluruh peserta yang sudah selesai diminta untuk mempersiapkan velbed. Okay, kami angkat-angkat barang dan beres-beres tenda dengan dibantu teman-teman lain. MFD akan segera dimulai, guys. Aku tak sabar apa yang akan terjadi esok. Haha.

Malamnya, kami makan bersama di depan gedung Anggrek. Malam itu makan masih belum diwaktui, masih santai. MFD belum dibuka secara resmi. Setelah makan di malam itu juga, kami digiring ke lapangan tennis Pusdiklat AP. Akan ada gladi pembukaan MFD. Kami berbaris disana.

Nah, disini, sebelum gladi pembukaan dimulai, seluruh peserta perempuan yang ada disana termasuk aku diminta maju ke ujung pojok depan. Kami diminta membacakan sebuah teks susunan acara satu persatu. Bergiliran. Rupanya itu semacam ‘audisi’ pemilihan MC. Haha. Ya, daaan, setelah audisi singkat yang terpilih adalah aku. Mungkin karena suaraku paling lantang dan.. nggak tau malu -_-”

Esok paginya, Upacara Pembukaan MFD dilaksanakan. MFD resmi dibuka.

Status kami resmi menjadi siswa/i peserta samapta DJPB.

Hari itu juga, adrenalin kami dipacu habis-habisan..

Betapa itu adalah hari pertama yang membuat kami lelah, penuh lumpur, basah, kotor.

Tepat setelah apel dibuka, kami diminta berbaris dan berlari keluar lapangan untuk kemudian diarahkan ke lapangan tanah setengah becek. “Siswa, seluruhnya merayap, sekarang!!” Reflek kami saling pandang satu sama lain. Pelatih.. secepat ini? Kami belum pernah merayap sebelumnya, pelatih. Toloong. Dalam sepersekian detik, kami terdiam saat itu. Yeah but well, challenges accepted. Merayap dimulai. Dengan gaya yang entah bagaimana bentuknya, kami merayap, yang penting kami merayap-se-yang-kami-bisa. Nggak sekadar sampai disitu, setelah merayap selesai dan kami tiba di ujung lapangan, perintah selanjutnya menanti kami. Guling-guling, merayap punggung, jungkir. Bolak balik seperti itu. Sampai baju kami yang tadinya hitam berubah jadi coklat. Sampai baju kami yang tadinya kering berubah jadi setengah basah. Sampai kami yang tadinya masih bugar berubah jadi loyo.

Saat kami sedang khidmat merayap, hujan turun. Apakah prosesi jadi terhenti? Jangan harap. Pelatih justru makin semangat untuk membayat kami. Guling-guling, merayap, jungkir, merayap punggung, push up berantai. Tanah lapangan yang tadinya setengah becek kini jadi full berlumpur. Kotor, basah, bau, menggigil. Lengkap sudaah!

Nggak berhenti sampai disitu, setelah seluruh prosesi agung itu selesai, kami diminta berbaris, untuk berjalan mengitari kompleks Pusdiklat AP dengan aba-aba tertentu. Disatu waktu kami harus tiarap, kemudian lanjut berjalan, disatu waktu kami harus push-up, kemudian lanjut berjalan, disatu waktu kami harus guling, kemudian lanjut berjalan, dan seterusnya. Mual, pusing, lelah, jadi satu. Beberapa teman mulai goyah. Banyak yang keluar barisan, entah perempuan atau laki-laki, meminggirkan diri, lantas memuntahkan seluruh isi perutnya. Bahkan ada teman yang sampai pada taraf kesulitan nafas, dilarikan ke IGD saat itu juga, diberi bantuan oksigen.

Padahal baru hari pertama.

Di hari pertama itu juga kami sudah digiring ke kolam hijau yang banyak kodok dan ikan matinya. “Masuk ke kolam semua, siswa!” teriak pelatih. Well, ya. Kami nggak bisa apa-apa selain menuruti kemauan pelatih. Setelah menceburkan diri, melihat fakta bahwa air hanya setinggi dada kami, pelatih tak kehabisan akal. Kami disuruh membenamkan seluruh badan dan kepala kami ke dalam kolam. “Kalau topi belum semuanya basah, artinya kalian belum nyebur!” Baju, jilbab, sepatu, seluruhnya basah kuyup ditambah ternyata nggak boleh ganti pakaian sampai sore. Hujan juga ternyata awet mengguyur kami. Menggigil maksimal sampai sore.

Pernah juga pada suatu malam kami dibangunkan tiba-tiba dengan bunyi senapan yang mengagetkan dan memekakkan telinga. Kaget, karena itu pertama kali. Kami diminta berkumpul di dekat lapangan parkir. Aku dan beberapa teman perempuan yang lain terlambat karna repot mengenakan seluruh atribut, dihukum jalan jongkok hingga menuju lapangan. Sampai dilapangan, masih disambung dengan teriakan “Siapa yang tidak pakai kaos kaki atau pakai kaos kaki selain putih, maju ke depan!”. Oke, kaos kakiku hitam. Aku –dan banyak teman lain- maju ke depan. Dalam kondisi gelap, dingin, masih lemas, kami diperintahkan push up. Setelah itu, kami berbaris dua-dua, menyusuri gelapnya malam, di sekeliling pusdiklat AP, yang.. katanya horor itu. Beberapa titik di Pusdiklat AP merupakan lokasi yang pernah muncul di acara “Dunia Lain” di stasiun tivi, saking angkernya.

Prosesi menyusuri jalan angker di malam itu diakhiri dengan jalan jongkok di track menurun dan agak panjang. Berat. Sungguh berat. Sekujur kaki rasanya keram seluruhnya. Betapa leganya, ketika kami akhirnya sampai di ujung track, yang menandakan bahwa jalan jongkok selesai, menyisakan kaki yang gemetar dan keram. Tapi ternyata, setelah jalan jongkok kami masih diperintahkan dalam posisi push-up. Lalu bolak balik push-up, berpuluh kali. Setelah sekujur kaki yang keram gemetar sehabis jalan jongkok di track menurun, kini tangan juga ikut keram gemetar menahan seluruh badan. Lengkap sudah.

Hari-hari selanjutnya diisi dengan kegiatan yang hampir sama. Yang jelas, kami sudah mulai terbiasa dengan yang namanya merayap, jungkir, guling, merayap punggung, sit up, push up, merangkak cepat, jalan jongkok, ditambah nyebur empang. Kamis malam, sekali lagi, kami dibangunkan, bedanya, kali ini kami harus menyusuri sekeliling pusdiklat sendiri-sendiri. Gelap, tanpa senter, sepi senyap. Sepanjang perjalanan baca-baca hafalan. Allah always besides us..

Dalam sepekan pelatihan bersama Kopassus, terhitung 3x kami masuk ke kolam hijau itu. Bagiku kolam itu namanya kolam berkah. Berkah, sebab membuat kami bersyukur betapa nikmat dan berharganya baju dan sepatu yang kering. Betapa tidak, setelah kami masuk ke kolam, kami tidak dipersilahkan mengganti baju yang kering oleh pelatih. Jilbab, baju, sepatu yang basah kami kenakan hingga waktu menunjukkan petang. Aku tidak tau bagaimana dengan teman-teman yang lain, tapi yang jelas, aku sangat menggigil harus seharian pakai baju dan sepatu yang basah. Awalnya sempat khawatir masuk angin, ternyata enggak alhamduliLlah. Mungkin ini bagian dari pendidikan Kopassus kalau kita nggak boleh manja XD

Selain seluruhnya diatas, saat MFD kami juga belajar tentang materi militer tertentu, PBB, juga senam yang ‘baik’. FYI, setiap senam yang baik dan benar itu harusnya diakhiri dengan hadap serong kiri atau serong kanan, tiarap, kemudian push-up dan sit-up -_-

MFD terlalu singkat kalau harus diceritakan disini. Just come and visit.. i’ll tell you more and more. It was an interesting things. MFD terlalu indah untuk dikenang, sekaligus terlalu pahit untuk diulang. Huehehe

Jangan gundah atau gusar jika kamu suatu hari kelak mendapat kabar harus mengikuti kegiatan sejenis MFD atau samapta seperti ini. Segala hal sejatinya hanya soal mindset. Jadikan pola pikirmu selalu positif, ikhlas, maka segalanya akan jadi enteng, bahkan seru. Hal seperti ini terkadang dibutuhkan untuk melatih sikap mempertahankan hidup dan tidak mudah menyerah pada keadaan. Dinikmati, belajar hidup dalam kondisi apapun. Kata salah satu kawanku, kegiatan macem MFD  ini  tujuannya untuk melatih mental kita gimana ketika kita dalam kondisi lemah selemah-lemahnya, dikasih tugas yang nggak masuk akal. Jalani saja. Ikhlas. Nanti nggak sadar, tau-tau MFD udah mau selesai. Tau-tau udah mau upacara penutupan.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari hal apapun kalau kita jeli, termasuk dari MFD ini. Yang jelas, senang dengan adanya kegiatan ini. Jadi belajar bersyukur di segala kondisi. Jadi belajar bertahan di segala situasi. Jadi makin erat dengan kawan. Dan, jadi tau tau cara merayap dan jungkir yang benar haha #buggg. Last but not least, thanks untuk Bagian Pengembangan yang sudah buat kegiatan ini dan big thanks buat pelatih dari Kopassus yang sudah membina kami dengan ‘sepenuh hati’. Sampai jumpa di Prajab!

 

Advertisements
Uncategorized

DTU-MFD: Samaptanya DJPB (Part I, Persiapan)

12 April 2014, Pukul 20.20 WIB

Sebenarnya sudah sejak 3 pekan yang lalu ingin menuliskan “pekan menyenangkan” selama MFD kemarin. Tapi, berhubung waktu itu nggak pegang laptop, jadilah rencana menulis tertunda untuk sementara waktu.

Kata temen-temen, MFD kemarin meninggalkan kesan yang nggak terlupakan. Menurutku sih MFD nggak meninggalkan kesan, tapi amat-sangat-meninggalkan-kesan-yang-nggak-terlupakan-sekali. Haha. Banyak pengalaman baru di diklat yang satu ini.

Berawal dari pengumuman yang tiba-tiba di suatu hari saat kami sedang khidmat menjalani On the Job Training. Kelompok III sedang melaksanakan OJT di KPPN Khusus Pinjaman dan Hibah saat pertama tahu bahwa kabarnya akan dilaksanakan yang namanya MFD: Mental, Fisik, dan Disiplin.

Pertama dengar namanya saja, aku jadi sedikit ciut. Bagaimana tidak, kabarnya, MFD ini akan seperti samaptanya DJBC, cuma dari segi waktu saja yang membedakan: bahwa kami lebih singkat, hanya satu pekan. But it’s okay. Bukan Afifah namanya kalo melempem. Yeah. The show must go on.

Ada satu hal yang mengganjal di hati pertama dengar tentang MFD ini: tentang pakaian. Harus mengenakan apa aku nanti saat MFD? Kabarnya akan dibagikan dua set seragam outdoor dari instansi dan itu wajib dipakai selama sepekan pelaksanaan MFD, sama persis seperti samaptanya DJBC dimana seragam harus dikenakan karena seperti itulah aturannya. Lalu, apakah aku harus pakai pakaian itu juga? Bisakah tetap mengenakan rok? Allah, please protect and guide me..

Konsul sana sini sama mbak-mbak ikhwah (yang memang sudah lebih dulu melalui samapta), sama MR, sama ummi, terkait satu hal ini. Konklusinya: aku harus kuat. Kata ummi, “Kalau memang harus pakai pakaian dari instansi dan pakai rok justru akan membahayakan  keselamatan diri, insyaaAllah nggak papa mbak. Dalam suatu shirah disebutkan bahwa Rasulullah tersenyum melihat seorang wanita jatuh dan auratnya tidak terbuka karena pakai celana panjang, kemudian Rasulullah membenarkan wanita tersebut. Kalau memang situasi yang mengharuskan seperti itu, nggakpapa. Bismillah, mbak.. istighfar.. darurat.. insyaaAllah diperbolehkan. Kadang-kadang hal seperti itu dibutuhkan untuk melatih mental mempertahankan hidup dan tidak mudah menyerah terhadap keadaan. Meski berat, insyaaAllah bermanfaat. Nikmati ya mbak, belajar hidup dalam kondisi apapun”. #FYI, sejak kecil ummi adalah orang yang sangat memperhatikan kami anaknya dalam hal pakaian. Sejak kecil beliau mengajarkan kami bagaimana seorang muslimah seharusnya berpakaian*

Alhamdulillah. Jadi lega dengar nasihat ummi. Allah, mudahkan dan lindungi kami..

MFD makin hari makin bikin penasaran. Kupikir, kapan lagi coba, bisa tiarap guling-guling di tanah kalo bukan di kegiatan macam MFD ini. Haha #buggg. Tapi btw, dalam hal setertarik apapun kita pada suatu hal, segalanya tetap ada batasnya. Untuk hal yang berkenaan erat dengan syariat -pakaian misalnya- harus difikirkan terlebih dulu. Harus dipastikan segalanya tetap berjalan sesuai koridorNya. Ini terkait aturan dari Allah, Sang Penggenggam Dunia. Kita tentu nggak bisa sekehendak kita sendiri, kalau mau disayang sama Allah. Kebebasan tetap berbatas. Tentu Allah bukan bermaksud menyulitkan kita terkait hal ini. Justru, ingin menguji kita, memfasilitasi pembuktian iman kita: kita mau nggak? Sanggup nggak? Rela berkorban nggak? Kalau lolos, surga balasannya, insyaaAllah. Siapa sih yang nggak mau jannahNya Allah? T^T

Akhirnya, hari itu tiba. Hari keberangkatan menuju Gadog, Puncak, Bogor. Bersama dengan teman-teman, kami bertemu di Stasiun Djuanda untuk kemudian berangkat bersama-sama menuju Bogor.

Bismillah, MFD, i’m coming!

Semoga selalu dalam lindungan Allah.

Uncategorized

Bersyukur ada Lingkaran Cinta

Bersyukur, punya lingkungan dan bi’ah yang baik dari lingkaran cinta itu.

Rutin membersamai lingkaran itu, mungkin terlihat sepele dan tidak penting bagi orang luar.Tapi sejatinya aku membutuhkannya dan ia adalah pengikatku. Ia pengerat ukhuwah. Penjaga ruhiyah. Pemasti bahwa aku akan dan terus selalu dekat dengan Allah. Pengingat bahwa ada ending kehidupan yang penentunya adalah kita sendiri: jannah atau nar.

Al imaanu yaziidu wa yankush.

Iman itu naik dan turun. Bertambah dan berkurang.

Sering, saat ruhiyah ini sedang membutuhkan nashihat tertentu, lingkaran cinta itu membahas hal yang berkait erat dengan apa yang sedang kubutuhkan. Tanpa pernah kupiinta. Ia datang dengan ‘sendirinya’. Sebuah ‘keterbetulan’ yang membahagiakan.

Saat merasa sedih, diingatkan tentang ma’iyatullah. Kebersamaan dengan Allah. Bahwa ada Allah yang selalu membersamai dengan kita, dimanapun, kapanpun, bagaimanapun kondisinya.

Saat sedang dalam kondisi berlebihan bicara dan tertawa, betapa diingatkan tentang ruhiyah yang menjadi kering karena lisan. Tentang afatul-lisan, bahaya lisan. Maka aku menjadi terdiam. Diingatkan bahwa lisan yang terlalu sering mengoceh adalah indikasi jauhnya seseorang dari Allah.

Saat sedang merasa kering, aku diingatkan tentang keikhlasan, bagaimana menjaga agar ruh itu tetap ada, membersamai diri ini hingga kelas di ujung masa. Betapa hidup kita tidak lain dan tidak bukan adalah untuk Allah; bukan yang lain. Tujuan lain: bekerja, belajar, silaturahim, hanyalah sarana untuk mendekatkan diri pada Allah.

Betapa seringnya ada sebuah ‘keterbetulan’ dalam materi di lingkaran itu dengan apa yang kubutuhkan. Banyak hal yang kupertanyakan, dan kemudian tanpa perlu disinggung-singgung, sudah terjawab dengan sendirinya.

Sering takjubsendiri.

I do love you, my lingkaran-cinta.

Always pray we’ll meet in Allah’s Jannah.

Live is short and death is near..

Semoga selalu dituntun Allah untuk menjadi pribadi yang selalu mengutamakanNya dan mencintaNya dalam tiap denyut nadi ini.