Uncategorized

Senja dan Syair Abu Nawas

Ilaahi lastu lil firdausi ahlan

Wa laa aqwa ‘ala naril jahimi

Dzunubi mitslu a’dadirrimal

Zaidun fii kulli yaum

Wa umri naqisun fi kulli yaum

Semasa di pondok, syair ini dilantunkan dari Masjid Agung Gontor lima kali sehari. Datangnya waktu shalat kami ditandai dan dimulai dengan lantunan bait syair Abu-nawas tersebut. Gema suaranya membumbung membahana ke seluruh penjuru pondok, berduyun-duyun santri dari seluruh asrama melangkahkan kaki ke Masjid, shalat berjamaah bersama ribuan santri lain, merunduk menghadap Ilahi setelah penat dengan segala aktivitas keduniaan.

Ilahi, aku tidak pantas dimasukkan dalam surga firdausMu

Tapi aku juga tak sanggup tinggal dalam nerakaMu

Dosa-dosaku bak segunung butiran pasir

Terus bertambah setiap hari

Namun usia terus berkurang setiap hari

Ada rasa yang menakjubkan di hati saat mendengar bait itu di waktu-waktu datangnya shalat, lebih-lebih di senja hari, saat waktu maghrib tiba, saat langit mulai kelam. Gema lantunan syair yang berpusat di Masjid Agung itu membahana, mengapung ke langit di senja hari, terasa syahdu.

Di keheningan suasana senja, setelah sepanjang hari diri dilibas oleh berbagai aktivitas keduniaan dan hiruk pikuk kesibukan, gemuruh syair itu seolah mengingatkan jiwa yang gersang. Jiwa merendah, mengakui diri dengan segala ketundukan akan segala dosa, betapa dosa terus bertambah setiap detik, padahal sejatinya usia kita terus berkurang setiap detik.

Syair itu dikumandangkan setiap kali menjelang shalat, tapi di senja hari, saat langit mulai gelap, saat keheningan merayap dan keriuhan menyusut, lantunan itu membuat yang mendengarnya merasakan syahdu; terbang membumbung; jatuh cinta.

Sebuah ketundukan, muhasabah, keberserahan sepenuhnya kepada Ilah Sang Penggenggam Dunia.

Syahdu, damai, seperti senja hari di langit Gontor.

 

Advertisements
Uncategorized

Hikmah dari Arah yang Tak Disangka

Malam itu hari Selasa, tanggal 13 Mei 2014. Seperti biasanya, saat tiba di kost setelah pulang dari kantor, aku langsung membuka pintu kamar, menyalakan kipas angin, duduk dan berisitirahat sejenak. Malam itu, aku belum melihat keadan di kamar disekitar. Keadaan yang sebenarnya sedang tidak wajar.

Tepat saat aku hendak meletakkan jilbab di atas lemari, aku baru tersadar. Kamar berantakan. Lemari terbuka lebar dengan pakaian tersibak sana-sini dan laci amburadul. Tas-tas bergeletakan tidak rapi dengan resleting terbuka. Aku yakin sekali aku tak pernah meninggalkan kamar dalam kondisi seberantakan itu. Dadaku berdegup kencang. Aku yakin sekali ada orang asing yang sempat masuk ke kamar ini, mengobrak abrik seluruh kamar dan isi lemari ini. Mencari satu-dua barang yang cukup berharga untuk dapat dibawa.

Tanpa pikir panjang aku mengobrak abrik lemari di sisi satunya, mencari barang berharga pemberian dari ummi disana. Jantungku berdebar-debar. Apakah masih ada? Apakah aman? Alhamdulillah, setelah tak lama mengobrak abrik seluruh isi lemari pakaian, aku menemukan bahwa barang berharga pemberian dari ummi masih ada. Bersyukur bahwa Allah Sang Maha Penjaga masih mempercayakan amanah barang pemberian ummi ini untukku. Rasanya shock sekali malam itu. Pasalnya, aku bingung dari mana maling itu bisa masuk ke kamar ini, sedangkan setiap hari pintu dikunci rapat dan kunci selalu kubawa ke kantor. Khawatir, penasaran, gelisah, bagaimana sebenarnya cara maling itu menerobos masuk ke kamar.

HP N*kia pemberian abi yang sengaja dikirim dari rumah, sudah jelas raib dari laci. Aku menaruhnya di laci, dan laci sudah berantakan tidak beraturan. Lalu laptop, ah ya, laptop, entah mengapa aku justru mengingat laptop di detik paling akhir, di saat temanku di sebelah kamar menyadari bahwa ternyata ia kehilangan laptopnya di kamar karena alasan yang sama: dimaling. Aku gemetar mencari laptop di sudut kamar, dan tidak kutemukan dia disana. Kucari di lemari, tempat aku biasa menyimpan, juga tak ada. Dimanakah ia.. aku mulai lemas.. aku mulai diam.. aku berusaha mengikhlaskan diri jika memang aku harus kehilangan laptop itu.. pasalnya di seluruh sudut kamar atau di lemari aku tidak menemukannya. Aku tahu persis, seluruh isi kamar dan lemari sudah digeledah dan diobrak-abrik oleh maling yang tidak berperikemanusiaan itu, aku lemas.. laptopku tidak ada.. laptopku hilang.

Aku baru ingat. Masyaa-Allah, semalam laptopku dipinjam Ika, teman satu kostku.

Apakah laptopku aman di kamar Ika? Atau sudah raib dibawa pencuri itu juga?

Setelah satu persatu kami satukost mengecek kamar masing-masing, ternyata hanya kamar paling belakang saja –kamarku dan kamar sebelahku– yang dibongkar oleh maling. Kamar di bagian depan dan tengah tidak disentuh –mungkin karena maling takut aksinya terlihat dari luar. Dan bersyukurnya, aku jadi tahu bahwa laptopku ternyata aman di kamar Ika. Kamar Ika di bagian depan. Tidak dibongkar. Tidak sempat disentuh oleh maling. AlhamduliLlaaah. Beribu-ribu syukur.

Aku merasakan betapa rahmat Allah begitu luas. Takjub pada cara penjagaan Allah yang tidak kusangka di peristiwa ini.

Sejatinya aku biasa menaruh laptop di sudut kamar atau di lemari, hanya dua itu opsinya, dan aku tahu bahwa si maling telah mengobrak abrik isi kamar dan lemariku. Tentu jika aku meletakkannya disana, ia dapat dengan mudah menemukan dan membawanya T_T

Tapi hari itu tidak. Si maling tidak berhasil menemukan laptop itu disana, di kamarku.

Semalam sebelum peristiwa itu terjadi, temanku Ika yang kamarnya di bagian depan sempat mengatakan padaku bahwa ia hendak meminjam laptop untuk sebuah keperluan. Ika tidak biasanya meminjam laptop. Sangat jarang sekali. Seingatku, itu baru yang kedua kalinya ia hendak meminjam.

Tapi waktu itu malam terus merayap dan makin larut, namun Ika tidak juga segera ke kamarku untuk mengambil laptop yang hendak ia pinjam. Aku khawatir ia lupa atau mungkin sungkan. Aku tidak tahu, jadi aku berinisiatif ke kamarnya, mengingatkan, “Ika jadi pinjam laptop kan? Gapapa ka, ambil aja. Aku nggak pake kok.” Setelah itu, berpindah tangan-lah laptop dari tanganku ke tangan Ika.

Aku tidak tahu bahwa esoknya ternyata ada maling menyelinap di kost kami, menggeledah kamar kami.

Aku tidak tahu bahwa itu ternyata cara Allah untuk menjaga laptopku, dengan memindahkannya, melalui Ika yang berhajat untuk meminjam laptop itu.

Aku tidak pernah tahu bahwa inisiatifku ke kamar Ika untuk mengingatkannya meminjam laptop, berujung pada terselamatkannya laptopku di siang esoknya. Hampir pasti, jika malam itu Ika tidak segera meminjamnya dan baru mengambilnya esok malamnya, tentu laptopku sudah raib lebih dulu.

Aku tidak pernah tau bahwa sedikit kebaikan berupa inisiatif kecil untuk meminjamkan, yang sepertinya tampak sepele dan biasa saja itu, ternyata berhikmah besar.

Aku gemetar takjub.

Allaahu Akbar.

Cara Allah selalu diluar perkiraan kita manusia.

Sungguh sekecil apapun kebaikan dan sikap peduli, selalu ada ganjaran dan hikmah yang dihadirkan oleh Allah untuk kita. Mungkin saja sang hikmah untuk dimunculkan buat kita bukan sekejap di saat itu, saat kita melakukan kebaikan itu. Tapi hikmah itu selalu ada, entah kapan. Hikmah itu selalu hadir disaat yang tepat, di waktu terbaik yang kita tidak pernah tau.

 

Uncategorized

Tahsin: Penting namun Terabaikan  

Aku termasuk terlambat dalam mengenal ilmu tahsin: semasa kuliah. Itu pun secara tidak langsung karena terpaksa untuk ikut.

Berawal dari keinginan yang sudah sejak lama meluapluap buat bisa ikut tahfizh,  melangkahlah aku waktu itu ke salah satu lembaga yang memfasilitasi program tahfizh di sekitar kampus. Kukatakan pada musyrifah disana bahwa sejak lama aku ingin menghafal quran secara intensif namun belum mampu melangkah sendiri. Masih membutuhkan lingkungan atau minimal halaqah para penghafal.

Musyrifah disana waktu itu mengatakan dengan tegas, bahwa sebelum tahfidz harus lulus program tahsin. Itu syarat utamanya. Dan, aku memang belum tahsin. Kulobi musyrifah semampuku, kukatakan bahwa aku sudah sering belajar tajwid sejak kecil. Sudah kenyang aku belajar hukum nun mati dan tanwin, macam-macam mad, tafhim tarqiq, sejak cuma di TPA sampai di pesantren. Tapi musyrifah disana menolak. Tidak bisa, katanya. Kalau memang belum pernah belajar tahsin, harus tahsin dulu. Mau tak mau. Itu syarat mutlak. Kalau tidak mau, tidak bisa mengikuti kelas tahfidz di lembaga tersebut.

Aku cuma bisa menghela nafas berat waktu itu.

Baiklah, aku ikut tahsin.

Hingga tibalah pada hari pertama mengikuti kelas tahsin, and, wow,i feel amazing. Itulah gerbang awal pertemuanku dengan tahsin. Bercampur baur rasanya antara bahagia, sedih, kecewa, takjub, sesal, syukur. Buncah bahagia, takjub, syukur, sebab masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mempelajari ilmu agung ini. Sedih, kecewa, sesal, karena ternyata betapa aku yang selama ini mengira sudah familiar dengan alquran dan ilmu tajwid sejak kecil, ternyata, masih banyak salahnya dalam kaidah pembacaan quran. Ini sungguh berbeda dengan yang kupelajari selama hidup dan belajar belasan tahun. Merasa sangat tertohok; sangat tertinggal. Mengapa dulu abi atau ummi tidak sempat memberitahuku soal ilmu membaca alquran yang satu ini. Mengapa beberapa tahun tinggal di pesantren dan aku sama sekali tidak mendapatkan ilmu ini. Bagaimana bisa, aku bisa kecolongan sepanjang dan selama ini…

Maka antusiasmeku dalam mengikuti kelas tahsin waktu itu menjadi begitu meledak-ledak. Bahkan mungkin mengalahkan teman-temanku yang lain yang sedari awal memang sudah nawaitu untuk sungguh-sungguh mengikuti tahsin itu sendiri -bukan kelas tahfidz- sepertiku.

Alhamdulillaah, ternyata keseriusan dan antusiasme yang tinggi dalam belajar sangat membantu banyak dalam ketercapaian pembelajaran. Allah memberi begitu banyak kemudahan padaku saat belajar tahsin ini, kemudahan yang mungkin melampaui kemudahan yang diterima kawan-kawan lain, sehingga prosesnya menjadi begitu lancar, hasilnya begitu nyata, dalam waktu yang bisa dibilang cukup singkat. Ditambah lagi ketika diizinkan untuk bergabung dan belajar dalam komunitas alquran di Nurul Hikmah Ciputat, dengan bimbingan langsung ustadzuna Ahmad Muzzammil MF, Alhafidz –semoga Allah senantiasa melindunginya– baik pada tahfizh maupun tahsin, yang semakin meneguhkan dan menggenapkan dalam pembelajaran ‘ilmu kalam Allah ini.

Betapa bersyukurnyaaa.

Beribu-beribu syukur atas nikmat ini.

Alhamdulillaah.

Kini, setelah sampai di titik ini, setelah sedikit-banyak tahu tentang ilmu tahsin dan ilmu tilawatul alquran itu sendiri, semakin menyadari, bahwa masih banyak kawan kerabat kita disekitar yang belum dapat membaca alquran dengan baik dan benar. Kalau lancar dan asal-yang-penting-bisa-baca, banyak. Tapi yang sesuai kaidah sungguh masih dapat dihitung jari. Masih sangat sedikit sekali.

Menyedihkan, memang. Betapa ilmu Alquran ini adalah sangat penting, namun posisinya tersudut, terabaikan. Banyak orang yang merasa lebih butuh untuk kursus bahasa inggris atau kursus matematika ketimbang mengikuti kursus tilawah dan tahsin quran. Padahal quran adalah dasar dan falsafah hidup: kitab suci diin ini. Lihatlah, betapa banyak kawan-kawan cerdas disekitar kita yang fasih berbahasa inggris, cerdas dalam bermain logika, namun terbata-bata dalam tilawah. Kini, kita tahu bahwa tugas kita pada ummat masih banyak.

Maka diantara kewajiban kita kini adalah mengabarkan pada ummat bahwa ada ilmu Allah yang begitu penting untuk dipelajari. Ada ilmu Allah yang sangat mendasar yang harus didalami, yang jauh lebih penting dan lebih mendesak dibanding ilmu lainnya.

Sungguh, tak ada yang dapat mengungguli keutamaan ilmu manapun selain ‘ilmu kalam Allah. Perumpaan keutamaan ilmu Allah atas ilmu manusia adalah sebagaimana keutamaan Allah atas makhlukNya sendiri.

Jadilah bagian dari orang-orang yang berjuang dijalan ini. Jalannya para ahlul Quraan. Jalan para prajurit penjaga Quraan.

Berjanjilah, jika ada seribu orang yang berjuang menebarkan dan mengajarkan ilmu kalamullah ini, pastikan engkau satu didalamnya. Jika ada seratus orang yang berjuang memasyarakatkan ilmu kalamullah ini, pastikan engkau satu didalamnya. Jika ada sepuluh orang yang berjuang membumikan ilmu kalamullah ini, pastikan juga engkau adalah satu didalamnya. Namun, jika hanya satu orang yang berjuang sekuat tenaga menebarkan dan menjadikan ilmu kalamullah ini menjadi dekat dan nyata, pastikan engkaulah orangnya.

Khairukum man ta’allamal quraan wa ‘allamahu.

“Sungguh, manusia paling baik diantara kamu adalah yang belajar alquran dan mengajarkannya.”