Uncategorized

Tahsin: Penting namun Terabaikan  

Aku termasuk terlambat dalam mengenal ilmu tahsin: semasa kuliah. Itu pun secara tidak langsung karena terpaksa untuk ikut.

Berawal dari keinginan yang sudah sejak lama meluapluap buat bisa ikut tahfizh,  melangkahlah aku waktu itu ke salah satu lembaga yang memfasilitasi program tahfizh di sekitar kampus. Kukatakan pada musyrifah disana bahwa sejak lama aku ingin menghafal quran secara intensif namun belum mampu melangkah sendiri. Masih membutuhkan lingkungan atau minimal halaqah para penghafal.

Musyrifah disana waktu itu mengatakan dengan tegas, bahwa sebelum tahfidz harus lulus program tahsin. Itu syarat utamanya. Dan, aku memang belum tahsin. Kulobi musyrifah semampuku, kukatakan bahwa aku sudah sering belajar tajwid sejak kecil. Sudah kenyang aku belajar hukum nun mati dan tanwin, macam-macam mad, tafhim tarqiq, sejak cuma di TPA sampai di pesantren. Tapi musyrifah disana menolak. Tidak bisa, katanya. Kalau memang belum pernah belajar tahsin, harus tahsin dulu. Mau tak mau. Itu syarat mutlak. Kalau tidak mau, tidak bisa mengikuti kelas tahfidz di lembaga tersebut.

Aku cuma bisa menghela nafas berat waktu itu.

Baiklah, aku ikut tahsin.

Hingga tibalah pada hari pertama mengikuti kelas tahsin, and, wow,i feel amazing. Itulah gerbang awal pertemuanku dengan tahsin. Bercampur baur rasanya antara bahagia, sedih, kecewa, takjub, sesal, syukur. Buncah bahagia, takjub, syukur, sebab masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mempelajari ilmu agung ini. Sedih, kecewa, sesal, karena ternyata betapa aku yang selama ini mengira sudah familiar dengan alquran dan ilmu tajwid sejak kecil, ternyata, masih banyak salahnya dalam kaidah pembacaan quran. Ini sungguh berbeda dengan yang kupelajari selama hidup dan belajar belasan tahun. Merasa sangat tertohok; sangat tertinggal. Mengapa dulu abi atau ummi tidak sempat memberitahuku soal ilmu membaca alquran yang satu ini. Mengapa beberapa tahun tinggal di pesantren dan aku sama sekali tidak mendapatkan ilmu ini. Bagaimana bisa, aku bisa kecolongan sepanjang dan selama ini…

Maka antusiasmeku dalam mengikuti kelas tahsin waktu itu menjadi begitu meledak-ledak. Bahkan mungkin mengalahkan teman-temanku yang lain yang sedari awal memang sudah nawaitu untuk sungguh-sungguh mengikuti tahsin itu sendiri -bukan kelas tahfidz- sepertiku.

Alhamdulillaah, ternyata keseriusan dan antusiasme yang tinggi dalam belajar sangat membantu banyak dalam ketercapaian pembelajaran. Allah memberi begitu banyak kemudahan padaku saat belajar tahsin ini, kemudahan yang mungkin melampaui kemudahan yang diterima kawan-kawan lain, sehingga prosesnya menjadi begitu lancar, hasilnya begitu nyata, dalam waktu yang bisa dibilang cukup singkat. Ditambah lagi ketika diizinkan untuk bergabung dan belajar dalam komunitas alquran di Nurul Hikmah Ciputat, dengan bimbingan langsung ustadzuna Ahmad Muzzammil MF, Alhafidz –semoga Allah senantiasa melindunginya– baik pada tahfizh maupun tahsin, yang semakin meneguhkan dan menggenapkan dalam pembelajaran ‘ilmu kalam Allah ini.

Betapa bersyukurnyaaa.

Beribu-beribu syukur atas nikmat ini.

Alhamdulillaah.

Kini, setelah sampai di titik ini, setelah sedikit-banyak tahu tentang ilmu tahsin dan ilmu tilawatul alquran itu sendiri, semakin menyadari, bahwa masih banyak kawan kerabat kita disekitar yang belum dapat membaca alquran dengan baik dan benar. Kalau lancar dan asal-yang-penting-bisa-baca, banyak. Tapi yang sesuai kaidah sungguh masih dapat dihitung jari. Masih sangat sedikit sekali.

Menyedihkan, memang. Betapa ilmu Alquran ini adalah sangat penting, namun posisinya tersudut, terabaikan. Banyak orang yang merasa lebih butuh untuk kursus bahasa inggris atau kursus matematika ketimbang mengikuti kursus tilawah dan tahsin quran. Padahal quran adalah dasar dan falsafah hidup: kitab suci diin ini. Lihatlah, betapa banyak kawan-kawan cerdas disekitar kita yang fasih berbahasa inggris, cerdas dalam bermain logika, namun terbata-bata dalam tilawah. Kini, kita tahu bahwa tugas kita pada ummat masih banyak.

Maka diantara kewajiban kita kini adalah mengabarkan pada ummat bahwa ada ilmu Allah yang begitu penting untuk dipelajari. Ada ilmu Allah yang sangat mendasar yang harus didalami, yang jauh lebih penting dan lebih mendesak dibanding ilmu lainnya.

Sungguh, tak ada yang dapat mengungguli keutamaan ilmu manapun selain ‘ilmu kalam Allah. Perumpaan keutamaan ilmu Allah atas ilmu manusia adalah sebagaimana keutamaan Allah atas makhlukNya sendiri.

Jadilah bagian dari orang-orang yang berjuang dijalan ini. Jalannya para ahlul Quraan. Jalan para prajurit penjaga Quraan.

Berjanjilah, jika ada seribu orang yang berjuang menebarkan dan mengajarkan ilmu kalamullah ini, pastikan engkau satu didalamnya. Jika ada seratus orang yang berjuang memasyarakatkan ilmu kalamullah ini, pastikan engkau satu didalamnya. Jika ada sepuluh orang yang berjuang membumikan ilmu kalamullah ini, pastikan juga engkau adalah satu didalamnya. Namun, jika hanya satu orang yang berjuang sekuat tenaga menebarkan dan menjadikan ilmu kalamullah ini menjadi dekat dan nyata, pastikan engkaulah orangnya.

Khairukum man ta’allamal quraan wa ‘allamahu.

“Sungguh, manusia paling baik diantara kamu adalah yang belajar alquran dan mengajarkannya.”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s