Uncategorized

Hikmah dari Arah yang Tak Disangka

Malam itu hari Selasa, tanggal 13 Mei 2014. Seperti biasanya, saat tiba di kost setelah pulang dari kantor, aku langsung membuka pintu kamar, menyalakan kipas angin, duduk dan berisitirahat sejenak. Malam itu, aku belum melihat keadan di kamar disekitar. Keadaan yang sebenarnya sedang tidak wajar.

Tepat saat aku hendak meletakkan jilbab di atas lemari, aku baru tersadar. Kamar berantakan. Lemari terbuka lebar dengan pakaian tersibak sana-sini dan laci amburadul. Tas-tas bergeletakan tidak rapi dengan resleting terbuka. Aku yakin sekali aku tak pernah meninggalkan kamar dalam kondisi seberantakan itu. Dadaku berdegup kencang. Aku yakin sekali ada orang asing yang sempat masuk ke kamar ini, mengobrak abrik seluruh kamar dan isi lemari ini. Mencari satu-dua barang yang cukup berharga untuk dapat dibawa.

Tanpa pikir panjang aku mengobrak abrik lemari di sisi satunya, mencari barang berharga pemberian dari ummi disana. Jantungku berdebar-debar. Apakah masih ada? Apakah aman? Alhamdulillah, setelah tak lama mengobrak abrik seluruh isi lemari pakaian, aku menemukan bahwa barang berharga pemberian dari ummi masih ada. Bersyukur bahwa Allah Sang Maha Penjaga masih mempercayakan amanah barang pemberian ummi ini untukku. Rasanya shock sekali malam itu. Pasalnya, aku bingung dari mana maling itu bisa masuk ke kamar ini, sedangkan setiap hari pintu dikunci rapat dan kunci selalu kubawa ke kantor. Khawatir, penasaran, gelisah, bagaimana sebenarnya cara maling itu menerobos masuk ke kamar.

HP N*kia pemberian abi yang sengaja dikirim dari rumah, sudah jelas raib dari laci. Aku menaruhnya di laci, dan laci sudah berantakan tidak beraturan. Lalu laptop, ah ya, laptop, entah mengapa aku justru mengingat laptop di detik paling akhir, di saat temanku di sebelah kamar menyadari bahwa ternyata ia kehilangan laptopnya di kamar karena alasan yang sama: dimaling. Aku gemetar mencari laptop di sudut kamar, dan tidak kutemukan dia disana. Kucari di lemari, tempat aku biasa menyimpan, juga tak ada. Dimanakah ia.. aku mulai lemas.. aku mulai diam.. aku berusaha mengikhlaskan diri jika memang aku harus kehilangan laptop itu.. pasalnya di seluruh sudut kamar atau di lemari aku tidak menemukannya. Aku tahu persis, seluruh isi kamar dan lemari sudah digeledah dan diobrak-abrik oleh maling yang tidak berperikemanusiaan itu, aku lemas.. laptopku tidak ada.. laptopku hilang.

Aku baru ingat. Masyaa-Allah, semalam laptopku dipinjam Ika, teman satu kostku.

Apakah laptopku aman di kamar Ika? Atau sudah raib dibawa pencuri itu juga?

Setelah satu persatu kami satukost mengecek kamar masing-masing, ternyata hanya kamar paling belakang saja –kamarku dan kamar sebelahku– yang dibongkar oleh maling. Kamar di bagian depan dan tengah tidak disentuh –mungkin karena maling takut aksinya terlihat dari luar. Dan bersyukurnya, aku jadi tahu bahwa laptopku ternyata aman di kamar Ika. Kamar Ika di bagian depan. Tidak dibongkar. Tidak sempat disentuh oleh maling. AlhamduliLlaaah. Beribu-ribu syukur.

Aku merasakan betapa rahmat Allah begitu luas. Takjub pada cara penjagaan Allah yang tidak kusangka di peristiwa ini.

Sejatinya aku biasa menaruh laptop di sudut kamar atau di lemari, hanya dua itu opsinya, dan aku tahu bahwa si maling telah mengobrak abrik isi kamar dan lemariku. Tentu jika aku meletakkannya disana, ia dapat dengan mudah menemukan dan membawanya T_T

Tapi hari itu tidak. Si maling tidak berhasil menemukan laptop itu disana, di kamarku.

Semalam sebelum peristiwa itu terjadi, temanku Ika yang kamarnya di bagian depan sempat mengatakan padaku bahwa ia hendak meminjam laptop untuk sebuah keperluan. Ika tidak biasanya meminjam laptop. Sangat jarang sekali. Seingatku, itu baru yang kedua kalinya ia hendak meminjam.

Tapi waktu itu malam terus merayap dan makin larut, namun Ika tidak juga segera ke kamarku untuk mengambil laptop yang hendak ia pinjam. Aku khawatir ia lupa atau mungkin sungkan. Aku tidak tahu, jadi aku berinisiatif ke kamarnya, mengingatkan, “Ika jadi pinjam laptop kan? Gapapa ka, ambil aja. Aku nggak pake kok.” Setelah itu, berpindah tangan-lah laptop dari tanganku ke tangan Ika.

Aku tidak tahu bahwa esoknya ternyata ada maling menyelinap di kost kami, menggeledah kamar kami.

Aku tidak tahu bahwa itu ternyata cara Allah untuk menjaga laptopku, dengan memindahkannya, melalui Ika yang berhajat untuk meminjam laptop itu.

Aku tidak pernah tahu bahwa inisiatifku ke kamar Ika untuk mengingatkannya meminjam laptop, berujung pada terselamatkannya laptopku di siang esoknya. Hampir pasti, jika malam itu Ika tidak segera meminjamnya dan baru mengambilnya esok malamnya, tentu laptopku sudah raib lebih dulu.

Aku tidak pernah tau bahwa sedikit kebaikan berupa inisiatif kecil untuk meminjamkan, yang sepertinya tampak sepele dan biasa saja itu, ternyata berhikmah besar.

Aku gemetar takjub.

Allaahu Akbar.

Cara Allah selalu diluar perkiraan kita manusia.

Sungguh sekecil apapun kebaikan dan sikap peduli, selalu ada ganjaran dan hikmah yang dihadirkan oleh Allah untuk kita. Mungkin saja sang hikmah untuk dimunculkan buat kita bukan sekejap di saat itu, saat kita melakukan kebaikan itu. Tapi hikmah itu selalu ada, entah kapan. Hikmah itu selalu hadir disaat yang tepat, di waktu terbaik yang kita tidak pernah tau.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s