Uncategorized

Menulis!

Saya sudah janji ke diri sendiri buat nggak lagi malas-malasan nulis. Entah sudah berapa kali bikin blog, isi, tapi lalu terlupakan. Bikin – isi – terlupakan. Berulang seperti itu. Sampai lupa semua bikin di domain blog mana dan alamat apa. Jadi jangankan password; accountnya pun lupa.

Dulu sempat berpikir, memang hal sepenting apa yang akan kita dapat dari proses menulis itu? Well, menulis pasti punya rentetan manfaatnya sendiri. Tapi bukankah menulis adalah kerja membosankan yang tidak banyak menghasilkan? Duduk diam untuk secara perlahan meluapkan apa yang ada dalam pikiran melalui tuts-tuts keyboard. Bukankan lebih seru bercerita langsung? Huehehe.

Itu sekelebat pemikiran dangkal dulu. Mohon maafkan.

Sekarang saya lebih faham. Bahwa menulis adalah kerja jangka panjang: yang tentu saja berbeda dengan bercerita langsung yang sasarannya baik dari segi masa atau jangkauan person lebih bersifat terbatas.

Setelah banyak mengamati, banyak belajar mandiri, saya tahu bahwa saya harus menulis dan butuh menulis. Menulis adalah kerja besar. Mungkin ia akan terlihat ‘sia’ hasilnya jika dilihat di waktu itu juga atau jika hasil berupa tulisannya tidak dibagikan pada dunia. Tapi lihatlah, ia akan menjadi suatu hal yang penuh kebermanfaatan setelah engkau memperkenankan tulisan itu untuk  dibaca orang lain. Orang-orang yang membacanya boleh jadi terinspirasi, boleh jadi sampai pada tahap pelaksanaan, atau minimal jadi tahu. Hasilnya akan jadi konkret. Hanya butuh proses dan waktu. Sebatas itu.

Dengan menulis, sejatinya engkau menjadi bermanfaat bagi orang lain dan tentu bagi dirimu sendiri.

Nah, sekarang, ayo kumpulkan semangat juang lagi buat menulis; memberikan kontribusi; berbagi hikmah.

Kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang pandai boleh setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dalam sejarah.” 

 

 

 

Advertisements
Uncategorized

Ini Cerita (Prajab)ku, Mana Ceritamu?

Dulu, jauh hari sebelum pelaksanaan prajab aku berdoa agar Allah mengaruniai tempat prajab yang terbaik. Doaku; agar tetap diizinkan menggunakan bawahan rok selama kegiatan outdoor; kegiatan prajab tidak menyulitkan waktu sholat;  diizinkan dapat kawan sekamar yang shalihah. Dan, taraaa. Kekuatan doa selalu ajaib. Allah mengabulkan ketiganya. Alhamdulillah dapat lokasi Petukangan, dengan komandan pelatih yang super baik; sebelum kami sempat minta izin beliau sudah mengizinkan kami pakai rok, beliau memberikan waktu sholat yang sangat cukup bagi kami –dibandingkan MFD yang waktu sholatnya super sempit– dan aku –puji syukur Alhamdulillah– dapat teman sekamar yang shalihah-shalihah. Lihatlah dua kawan sekamarku tercinta, Dita dan Dera. Dita yang rutin shaum daud selama tiga pekan Prajab -dia peserta Prajab satu-satunya yang melaksanakan shaum daud- dan Dera, orang yang selalu kutemui tiap pagi dalam keadaan Qiyamullail tanpa terlewat satu malam pun, apapun kondisinya. Kami bertiga selalu mengusahakan buat shalat berjamaah bagaimanapun  sempitnya waktu, terutama di hari-hari awal Prajab yang super padat. Beruntungnya bisa kenal dekat sama kalian. Love both of you, DitDer! #peluk#

Nah, prajab dilaksanakan selama tiga pekan. Di pekan pertama, tiga hari awal tepatnya hari Senin, Selasa, dan Rabu adalah kegiatan Bela Negara. Full day kegiatan outdoor sama Kopassus. Kurasa aku nggak perlu menceritakan secara gamblang kegiatan di tiga hari pertama ini ya. Sebab kurang lebih kegiatannya sama kayak MFD – Samaptanya DJPB, yang sudah pernah kuceritakan sebelumnya. Guling, merayap, tiarap. Malah lebih ringan, sebab kami nggak ada nyebur-nyebur kolam, jungkir, merayap punggung, habis-habisan kayak semasa MFD sama Pelatih Soriton dulu. Baju kami sampai sore tetap “normal”. Paling coklat coklat sedikit dan basah keringat. Nggak sampai berubah jadi basah dan penuh lumpur kayak dulu. Mungkin lain cerita kalau Prajab di Lebak Bulus. Pelatih disana Pelatih Soriton. Ah, aku sudah lulus Samapta sama Pelatih Soriton, makanya nggak sama beliau lagi. Hehehe.

Hari kamis itu hari pertama masuk kelas. Pakaian putih hitam plus dasi, dengan sepatu pantofel hitam dan jilbab putih. Rasanya menyenangkan sekali, bisa masuk kelas, belajar kayak semasa kuliah dulu. Sistem belajar di kelas semasa Prajab pakai sistem diskusi, presentasi, flipchart, dan games. Suka! Kupikir, coba dari dulu sistem kuliah di STAN pakai sistem begini ya. Wah, pinter kita. Haha. Terbiasa diskusi, diajak biasa mengungkapkan pendapat, dipaksa berfikir cepat sekaligus langsung menuangkan hasil pikir kita ke dalam bentuk flipchart. Kemampuan linguistik jalan, sistematika berfikir jalan, otak kanan juga jalan. Nice! Tiap hari, minimal pasti ada satu diskusi dan satu presentasi. Dan yang nggak kalah seru, gamesnya. Menyenangkan ya kelas yang diisi dengan games. Lagi-lagi mikir, kenapa nggak dari dulu kelas diisi sama yang beginian? Haha. Seru bingit.

Anyway, aku dapat kelas H. Kelas yang diisi orang-orang yang luar biasa menyenangkan. Bangga menjadi bagian dari mereka.

Tapi kelas H juga sekaligus jadi kelas yang “ter”. Lihat aja, kelas mana yang paling sering bikin seangkatan di Petukangan kena marah dan tindakan sama Pelatih. Kelas mana yang bikin seangkatan diguling gara-gara ada laporan “buruk” dari dosen killer, kelas mana yang bikin seangkatan jalan jongkok gara-gara ada yang terlambat balik pesiar, kelas mana yang paling anarki waktu tanding benteng takeshi. Well ya, inilah kami. Kelas yang “nggak punya” ayah tapi paling kompak pembelaan dirinya -_-‘

Overall, kelas H selalu jadi kelas yang menyenangkan, banyak dapat inspirasi dari teman-teman di kelas ini :”)

Aku sangat menikmati seluruh proses diklat satu ini. Selama prajab, rasanya semakin dekat waktu penutupan malah makin sedih T^T. Nggak akan ada lagi kebersamaan sama teman-teman sekalas, nggak akan ada lagi canda tawa kebahagiaan, suka duka dihukum sama-sama, teriak lepas ramai-ramai. Nggak akan ada lagi prosesi belajar di kelas dengan kawan-kawan terbaik.

Dan akhirnya ketika hari itu tiba, hari penutupan, tepat ketika upacara penutupan dilaksanakan dan upacara resmi ditutup, nggak sengaja air mata tumpah. Huaa. Cengeng banget kamu faah. Buru-buru kuhapus, malu. Waktu itu rasanya sungguhan nggak rela dengan semua keberakhiran ini. Rasanya nyaman dan menyenangkan sekali ya diklat itu. Belajar, bersosialisasi dengan teman-teman; ketimbang harus seharian kerja di depan PC.

Sekejap sebelum pulang dan pisah satu sama lain, kami menyempatkan diri buat ngisi testimoni. Sayangnya, kami cuma punya waktu buat testi sebentar, dengan waktu yang super singkat. Sebab waktu itu diburu waktu shalat Jumat. Sedih juga, lihat testi yang minimalis T___T. Tapi nggak apa lah ya, dari pada nggak ada sama sekali.

 

Thanks, you all H-people :""
Thanks you all H-people :””

 

Terimakasih untuk tiga pekan yang luar biasa ini, temans. Terimakasih untuk tiga pekan yang full of meaning & full of blessing. Terimakasih untuk semua kebersamaan dan pelajaran berharga selama Prajab kemarin.

Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Nama kalian akan selalu kusemai dalam dihati. Semoga silaturahim kita tetap terjaga sampai kapanpun…

Tribute to teman-teman terbaik, H-people.

 

 

Bareng Pak Wendi
bersama Pak Wendi
Depan Wisma Pembina
Pasca Benteng Takeshi

 

Kelas H "Bubar"!
Kelas H bubar! =)

 

I do love you all