DJPB

Perpisahan (Lagi)

Ada sebuah dialektika ringan yang berbunyi “esensi dari sebuah pertemuan justru adalah perpisahannya” dan rasa-rasanya, kita semua mengamini hal itu. Maka inilah kita; bertemu untuk berpisah, mengawali untuk mengakhiri, hidup untuk mati.

Berkali-kali mengalami perpisahan, berkali itu pula belajar, tapi ternyata tetap saja: perpisahan tak pernah bisa menyembunyikan kepedihan.

Pagi tadi, kami mengantar keberangkatan Pak Chairul dan Pak Ari ke Bandara untuk menuju tempat tugasnya yang baru: Purwakarta dan Jambi. Dan mulai pekan besok, segalanya akan terasa baru di kantor kami. Kantor kami cuma 13 pegawai, termasuk satu Eselon III dan empat Eselon IV. Maka kehilangan dua orang saja di kantor rasa-rasanya berat sekali, apalagi harus kehilangan mereka; dua ayah terbaik kami.

Pak Chairul dan Pak Ari. Namanya tercantum dalam Surat Keputusan Mutasi Eselon IV Dirjen Perbendaharaan Desember lalu. Beliau adalah dua sosok yang paling banyak kami ilmui figurnya, paling bisa berinteraksi dekat dengan kami. Sedih juga hingga menyisakan pertanyaan mengapa harus pak Ari dan pak Chairul yang dipindahtugaskan meninggalkan kami disini; tapi tak adil juga kalau kami tak bisa merelakan kepergian beliau, sebab itu sudah menjadi hak beliau, kebahagiaan beliau. Ada sejumput rasa bahagia yang mengiringi ketika menyadari bahwa khususnya pak Chairul kini bisa kembali ke pulau Jawa, kembali dekat dengan keluarga, bererat-erat dengan anaknya. Alhamdulillaaah.

Pak Chairul dan Pak Ari. Betapa beliau berdua sudah sangat berjasa pada kami selama beberapa bulan pertama kami tinggal di Belitung.

Teringat obrolan pertama kali dengan pak Chairul via telefon yang dilakukan dari KPPN Jakarta II enam bulan lalu. SK Definitif baru saja keluar dan saya resmi bertugas di KPPN Tanjung Pandan. Atas adanya hal ini, saya menelepon Kassubbag Umum KPPN Tanjung Pandan: pak Chairul, buat sowan sekaligus minta nasihat khusus selaku persiapan pemberangkatan pertama kali ke Belitung. Saya masih ingat tawa renyah beliau, waktu saya tanya tentang adakah pesan khusus buat kami menjelang keberangkatan ke Tanjung Pandan?, “Nggak ada pesan khusus mbak.. pesan saya, jaga sholatnya.” T_T

Dan, ya, selanjutnya, pak Chairul inilah orang yang pertama-tama banyak sekali membantu kami –saya dan Lani- selama masa-masa awal di Belitung hingga saat ini. Pak Chairul yang menemani kami mencarikan kos, mengajak kami mengitari kota Tanjung Pandan, mengenalkan kami pertama kali pada warung Mbak Wanti: satu-satunya warung makan jawa yang cocok di lidah kami, dan menceritakan kebiasaan umum masyarakat Belitung pada kami. Pak Chairul juga yang mengenalkan saya pertama kali pada Julia, kawan sevisi yang merupakan orang lokal asli Belitung; yang mana dari Julia inilah, networking saya dengan orang-orang lokal Belitung mulai meluas. Dari DPD, ikut kepanitiaan tertentu, sampai gabung di Komunitas Lebah dan HPAI Belitung. Kalau ditarik ke depan, pangkal awal dari ini semua adalah dari pak Chairul :”)

Pak Chairul inilah, satu-satunya pegawai di kantor yang saya bisa ajak diskusi banyak hal dengan nyaman. Dari mulai bahas teknis kantor, sudut pandang tertentu, sampai bahas syariat. Beliau sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri, bisa berinteraksi lepas dengan kami, memperlakukan kami selaku anak-anaknya. Sangat gemati. Seperti juga waktu itu, semasa kekeringan tempo lalu di Belitong. Air di kontrakan kami mati. Mau tak mau kami jadi melakukan seluruh aktivitas yang membutuhkan air di kantor. Alhamdulillah sumur di kantor cukup dalam, jadi sumbernya masih lancar. Lalu atas hal ini, setiap pagi buta termasuk saat hari libur pak Chairul selalu bertanya, “Mau ke kantor jam berapa, nduk? Tak temani nanti.” Kantor di pagi hari selalu sepi, nggak ada penghuni. Maka tawaran itu sangat berarti sekali bagi kami. Ingat juga saat hari Idul adha dulu. Kami yang nggak bisa pulang ke rumah ini, bareng-bareng sama pak Chairul sholat Ied. Pasca sholat Ied, kami –atau lebih tepatnya saya– memohon-mohon ke beliau buat ditemani jalan-jalan. Ini sebentuk tindakan untuk menghindari kesepian di kontrakan. Haha. Maka jadilah pak Chairul mengantarkan kami ke Pantai Tanjung Tinggi dan Bukit Berahu, padahal beliau bukan tipe orang yang suka jalan-jalan. Momen idul adha pertama kali di Belitong sudah di lock dengan apik oleh pak Chairul, dan akan terekam selalu hingga jangka panjang. Terima kasih tak terhingga, pak.

Lalu pak Ari. Sebagai bawahan langsung pak Ari, saya merasa beruntung memiliki atasan seperti beliau. Beliau tipe pemimpin yang leader, bukan yang boss. Beliau selalu, “ayo kita kerjakan sama-sama” bukan “tolong dong kerjakan ini”. Beliau tipe pemimpin yang sangat memanusiakan manusia, sekaligus super koplak di kantor. Kalau ada suara gedomprengan berisik di kantor, biasanya itu bersumber dari banyolan lepas pak Ari. Pak Ari ini, perpaduan atasan yang menghargai bawahannya sekaligus meringankan beban kerja melalui banyak candaan. Kerja jadi berasa lebih nyantai,  minim beban, minim tekanan. Kalau ada tekanan di kantor, tekanan itu terkadang lebih sering berasal dari arah yang lain.

Saya beberapa kali di tengah jam kerja mendadak ndelosor di meja beliau, dan bilang, “Pak, laper nih.” kalau lagi terlambat makan. Hahaha. Beliau langsung sigap, “wah, yaudah mbak, segera makan dulu sana, biar SP2D saya yang handle.” lalu saya bisa langsung meluncur keluar cari makan dengan tanpa meninggalkan beban apapun. Saya, seringkali juga, kalau lagi ada kerjaan yang nggak membutuhkan PC, tanpa ragu membawa berkas-berkas kerjaan ke meja beliau. Saya mengerjakan disana, di meja beliau, meja kasie. Pak Ari fokus dengan pekerjaannya sendiri, dan saya fokus menyelesaikan berkas-berkas saya. Saya merasa nyaman duduk disana.

Pak Ari juga nggak pernah menyalahkan atas kesalahan-kesalahan kecil saya dalam pekerjaan. Beliau sangat menghindari sikap menyalahkan oranglain. Sekalipun saya salah dan saya mengaku salah minta maaf, beliau tetap tidak pernah menyalahkan. “Nggak ada yang salah mbak, semuanya buat belajar. “ Atas satu hal yang ini, saya respect sekali dengan beliau. Makasih banyak, pak Ari buat semuanya T_T Doakan semoga atasan pengganti kelak bisa sepertimu.

Pak Ari dan Pak Chairul sekarang sudah tak lagi di KPPN Tanjung Pandan lagi. Siang tadi pasca mengantar beliau berdua ke Bandara, saya sengaja ke kantor. Diam termenung memandangi tempat dimana biasa pak Chairul dan pak Ari duduk. Sesak. Mendung. Lalu banjir untuk yang kesekian kalinya. Entah kapan dipertemukan lagi dengan pak Chairul dan pak Ari.

Maafkan anakmu ini yang banyak sekali salah padamu selama engkau disini, pak. Terima kasih yang berlimpah untukmu berdua. Terimakasih untuk seluruh ilmu kehidupan yang kau ajarkan, untuk kebaikan yang kau berikan, untuk buncahan tawa yang kau tawarkan. Cuma Allah yang bisa balas. Semoga kelak Allah pertemukan kita kembali dalam keadaan yang lebih baik.

Hati-hati di tempat baru, pak. Selalu jaga kesehatan. Doakan anak-anakmu yang masih akan terus berjuang tanpamu di Negeri Laskar Pelangi ini.

 

Belitong, Sabtu 23.17 WIB.

18 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s