Cerita

Tauladan

Ada yang menarik dari anak tunggal Kasubbag Umum kami di kantor. Dia murah senyum.

Mungkin benar kalau kadang-kadang default wajah seseorang bisa menentukan bagaimana tampilan awal seseorang itu di hadapan orang lain. Katanya, ada orang yang wajahnya memang sudah kelihatan senyum, bibirnya udah dari sananya merekah, dst dst. Katanya begitu. Tapi nampaknya anak sang Kasubbag Umum ini beda. Dia betulan murah senyum. Dia masih kecil, artinya, belum banyak ilmu kehidupan yang dia peroleh, termasuk bagaimana dia seharusnya bersikap kepada oranglain, tapi dia sudah murah senyum sejak usianya masih belia.

Si adik ini namanya Faris. Kami biasa memanggilnya Bang Faris. Masih kelas 4 SD. Dari umurnya yang masih belia itu, saya setidaknya bisa sedikit menyimpulkan: “wah, anak ini murni murah senyum ya. Nature, bukan nurture.”

Suatu ketika saya iseng bertanya pada istri Kassubag Umum saya tersebut di suatu perbincangan pagi, “Bu, gimana sih caranya punya anak bisa senyum terus sepanjang masa gitu?” dan bu Hendra, begitu kami biasa memanggilnya, tertawa lepas kemudian sumringah menjawab, “Waktu baru lahir, ari-arinya dikubur dan dikasih gula mbak.”

Kami tertawa mendengar jawaban itu.

Di suku Jawa kadang berkembang sebuah budaya atau mungkin lebih tepatnya kebiasaan-kebiasaan tertentu yang kemudian menjadi tradisi turun temurun. Salah satunya adalah kebiasaan itu tadi, menguburkan ari-ari bersama barang tertentu, disesuaikan dengan keinginan pribadi ingin menjadi seperti apa sang anak kelak ketika dewasa.

Kalau mau anaknya pandai, kata orang jawa, kubur ari-ari bersama dengan buku dan pensil.

Kalau mau murah senyum, kubur ari-ari bersama gula.

Begitu seterusnya.

Bagaimanapun awal mulanya tradisi itu terbentuk, saya jadi sedikit berpikir geli dan kurang kerjaan atas hal ini: “Nanti kalau habis lahiran, mau ngubur ari-ari anak pakai gula juga ah!” Hahaha. Such an awkward things to do memang si pip ini.

Terlepas dari benar enggaknya tradisi dan kebiasaan ini, ada satu hal yang membuat saya berpikir. Sang anak sejak kecil lahir dan didominasi lingkungan keluarga kecilnya. Maka disini, satu-satunya alasan terkuat mengapa ia bisa se-murah senyum itu berarti berasal dari orang tua yang mengajarkannya.

Anak adalah peniru yang ulung. Apapun yang dikerjakan oleh orangtuanya, apapun karakter orangtuanya, dari sanalah ia berkaca.

Jadi?

Betul, jelas sekali. Dari orangtuanyalah sang anak akan menjiplak karakter orangtuanya.

Mau anak murah senyum, ya, jadilah murah senyum. Mau anak cerdas, jadilah cerdas. Mau anak shalih, jadilah shalih(ah) terlebih dahulu.

Beri tauladan, bukan sekadar tuntutan atau perintah lisan. Siap buat jadi orangtua hebat buat menghebatkan anak-anak kelak? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s