Sharing

Jurnal Bersyukur

Dalam keniscayaan interaksi dengan sesama, oranglain mengecewakan kita karena sikapnya -sebagaimana juga kita seringkali mengecewakan oranglain- adalah hal biasa. Tapi kadangkala, saat kita sedang dalam puncak kekecewaan, saat kita sedang berada dalam buruknya pemahaman, kita menjelma jadi pribadi yang menyebalkan: kita mengingat-ingat kesalahannya, melupakan kebaikannya, membayangkan kekurangannya. Dalam sekejap, segala keburukan itu mendominan dalam pikiran kita.

Sikap yang seperti ini, seharusnya sesegera mungkin kita hapus dari daftar karakter kita.

Sebab selain mengotori hati, hal ini juga akan menjadikan kita pribadi yang tidak mudah berterima kasih kepada manusia. Tidak berterima kasih kepada manusia, artinya juga tidak berterima kasih kepada Allah.

Ada sebuah kebiasaan baik yang bisa diupayakan supaya diri jadi lebih mudah mengingat banyaaak sekali kebaikan orang lain. Apa itu?

Jurnal bersyukur.

Saya punya satu Jurnal Bersyukur dalam rak buku saya.

Hanya note biasa, tapi ia berisi segala apa yang kita syukuri selama menjalani aktivitas sehari penuh. Mensyukuri apapun: keadaan, kesehatan, nikmat teman. Tapi yang dapat paling dominan dituliskan dalam Jurnal Bersyukur ini adalah tentang kesyukuran akan nikmat kebaikan orang-orang di sekitar kita. Tujuannya satu, supaya kita tidak melupakannya. Sebab, rutinitas yang menggilas hari seringkali menyebabkan kita banyak melupakan kebaikan oranglain.

Seringkali meski tidak setiap hari, saat malam menjelang tidur, selalu upayakan diri buat mengintrospeksi atas hal-hal apa yang kurang atau silap yang telah kita lakukan seharian itu. Bentuk muhasabah. Bersamaan dengan itu, ingat-ingat segala kebaikan orang lain. Kebaikan-kebaikan kecil, tapi sangat menyentuh di hati. Kebaikan kecil yang sedikit banyak telah meringankan diri. Seluruh kebaikan itu direkam dalam catatan kecil, yang mana kita bisa menyebutnya Jurnal Bersyukur.

Seperti tentang cerita sesederhana ini yang ternyata kemudian selalu diingat. Suatu ketika saya berencana buat lembur, sendiri. Sebetulnya khawatir juga sendirian malam-malam di kantor. Tapi demi melihat pekerjaan-pekerjaan yang mendesak harus segera diselesaikan malam itu juga dan nggak bisa ditunda lagi sampai besok, saya kukuhkan hati buat lembur sampai selesai. Mbak Dewi yang hendak pulang sekitar jam 9 malam pamit. Tapi demi melihat saya sedang bekerja seorang diri, beliau mengurungkan niatnya. Akhirnya lalu beliau duduk sambil main hp disana, bilang kalau ia belum mau pulang dulu. Saya bilang ke beliau untuk pulang duluan saja. Saya katakan kalau saya nggak papa. Tapi beliau bilang, “Nanti dulu, ini masih mau di kantor dulu kok”. Padahal saya tau betul kalau beliau disitu mau nemenin saya. Jadi terenyuh sendiri. Bukan apa-apa, pasalnya, di waktu-waktu sebelumnya, nggak pernah saya nungguin beliau kalau beliau sedang lembur. Pasti akhirnya selalu balik duluan. Tapi ketika saya lembur, beliau ternyara bersedia menunggu. Hiks. Ini mungkin sederhana, tapi berharga sekali rasanya waktu itu >.<

Kebaikan kecil itu, karena tertulis dalam Jurnal Bersyukur, jadi terekam kuat dalam memori. Kalau nggak ditulis mungkin lambat laun akan terlupakan, karena ini hal sederhana. Jurnal itu seringkali saya buka meski tidak setiap hari, hingga membuat kebaikan-kebaikan oranglain di sekitar makin terskema jelas, bahkan memasuki alam bawah sadar. Percaya atau tidak, karena hal ini, kita jadi lebih mampu menghargai orang-orang di sekitar kita; jadi sering mengingat kebaikannya. Bahkan di waktu lain saat ada kekecewaan kecil lain yang tercipta, kita akan spontan berfikir “Dia sudah berbuat banyak sama kita, ini cuma setitik hal yang nggak sebanding dengan banyak kebaikan-kebaikan yang sudah dia lakukan.” Dan walhasil, secepat kilat hilanglah rasa kecewa itu. Surely.

Bermanfaat.

Alhamdulillah, jadi mudah mengingat banyaaaak sekali kebaikan orang lain.

Masih banyak orang baik di dunia ini.

Betul sekali apa kata pepatah ya. Kebaikan orang lain itu untuk diingat, keburukan orang lain untuk dilupakan. Kebaikan diri sendiri untuk dilupakan, keburukannya untuk diingat-ingat.

Allah, terima kasih atas seluruh naungan cintaMu di setiap waktu. Betapa engkau masih mengaruniai kami dengan hadirnya orang-orang yang peduli di sekitar kami.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s