Cerita

Belum Terganti

Hari ini dapat kiriman paket makanan dari ummi yang isinya lauk pauk kering. Macam serundeng, abon, korek kering, dan beberapa lainnya. Mungkin ini semacam perintah halus supaya makan banyak, supaya besok waktu pulang nggak kurusan lagi, hekeke. Sebagian dari isi lauk itu kubagi ke beberapa orang kantor, salah satunya pak Dedi, satpam kantor. Pak Dedi memang super baik sama kami.

Nah, berawal dari ngasih sedikit ke pak Dedi itulah, nggak lama setelahnya, beliau tiba-tiba duduk di sebelahku waktu sedang interface penerimaan harian. Dan, mengalirlah cerita itu. Cerita tentang pak Ari dan pak Choi. Cerita tentang kebiasaan pak Ari, tentang kedekatan pak Dedi dengan pak Ari. Lalu tentang ketelatenan pak Choi. Tentang nyamannya pak Dedi bekerja dengan pak Choi. Tersirat dari sana kalau pak Dedi kehilangan dua orang terbaik tersebut. Kehilangan yang belum tergantikan, sebab sekarang pak Dedi nggak ada lagi teman bermalam atau sekadar teman ngobrol kalau sedang jaga di kantor.

Pak Ari dan Pak Choi, beliau berdua adalah mantan eselon IV di kantor kami yang mutasi awal tahun  lalu. Masih terasa betapa sedihnya kami waktu itu.

Masih ingat, sepulang dari Bandara pasca mengantar kepergian pak Ari dan pak Choi untuk yang terakhir kalinya, aku ke kantor. Memandangi ruang subbagian umum. Memandangi kursi di depan TV. Memandangi tempat-tempat dimana pak Choi atau pak Ari biasa duduk dan biasa ditemui. Dan, betapapun sudah mempersiapkan diri untuk hari perpisahan itu, ternyata nggak bisa ditahan juga. *dasar pip cengeng

Aku nggak sedang ingin cerita apapun. Hanya sedang rindu. Rindu dengan klontengan nggak jelas pak Ari. Dulu, semasa ada pak Ari, kantor selalu ramai. Minimal tiba-tiba ada suara celetukan atau suara lemparan gelas plastik di kantor. Sekarang nggak ada lagi yang bisa seperti pak Ari. Lalu, pak Choi, masih belum ada yang mampu menggantikan sosoknya. Sang kasubbagian umum yang sudah seperti bapak sendiri buat kami. Beliau yang selalu tanggap kalau aku, atau Lani, misalnya sedang butuh apa-apa. Nggak tanggung tanggung, kami butuh apa, beliau langsung gerak cepat saat itu juga. Kadang berfikir, kami nggak tau apa yang terjadi kalau dulu datang pertama kali kesini pak Choi sudah nggak di kantor ini lagi. Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan pak Choi tertahan disini saat kami berangkat penempatan pertama kali.

Sebetulnya sedang nggak pingin berbagi apa-apa kali ini. Cuma sedang rindu dengan suasana kantor yang dulu. Rindu dengan pak Ari, dengan pak Choi. Tapi, inilah instansi kami. Mutasi jadi suatu keniscayaan tersendiri. Baru saja nyaman dengan satu orang, tak lama kemudian ditinggal pergi. Baru saja nyaman dengan satu orang yang lain, kita yang kemudian harus meninggalkan pergi. Begitu seterusnya. Perubahan silih berganti.

Apapun itu, doa kami selalu mengiringi. Semoga orang-orang terbaik yang telah meninggalkan kantor ini dan kini sedang berjuang di tempat lain selalu dilindungi dan dimudahkan segala urusannya oleh Allah. Semoga Allah selalu menjaga pak Chairul dan pak Ari. Semoga, Allah membalas segala kebaikan pak Choi dan pak Ari.

Sehat dan sukses selalu disana pak.

Anakmu di Bumi Belitong.

8.17 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s