Tafakur

Laa takhofu, Laa tahzanu

Suatu siang saat kami berkumpul bersama.

“Orang-orang beriman itu dituturkan dalam Quran, hidupnya Laa takhofu wa Laa tahzanu.”

Kami menyimak lekat.

“Laa takhofuu.. tidak takut. Hal ini kaitannya dengan masa depan. Ia tidak takut dengan masa depannya. Tidak risau. Tidak khawatir atas hal-hal yang belum terjadi dan belum tentu terjadi. Tidak berpikir, “Bagaimana ya nanti kalau…”

“wa Laa tahzanuu.. dan mereka tidak bersedih hati.  Hal ini kaitannya dengan masa lalu. Tidak bersedih atas hal menyakitkan yang terjadi di masa lampau, tidak menyesal atas keputusan-keputusan yang telah diambil, tidak berduka atas hal-hal yang sudah lapuk bersama dengan berlalunya waktu. Tidak berpikir, “Seandainya saja dulu..”

“Tapi, orang beriman juga sangat mungkin melakukan kesalahan,” lanjut beliau. Lalu bagaimana?

“Fastaghfiruu. Mohon ampun kepada Allah. Minta petunjuk sama Allah. Semoga dengan ini, Allah menuntun kita menuju jalan pulang..”

Allahu.

Nyess sekali dengan nasihat di siang itu. Sedang diingatkan kembali.

Laa takhoofu, wa laa tahzanu. Pesan itu sederhana, tetapi melekat dalam benak kami hingga kini.

Kita muslim, mukmin.

Tak perlu takut, tak perlu bersedih hati.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s