Cerita · Harapan

Janji untuk Layang-Layangku

Ini tiga hari tepat setelah suami melaksanakan tes wawancara beasiswa internal Ditjen Perbendaharaan. Alhamdulillah, tahap ini adalah tahap kedua, dan jika dinyatakan lulus, ia insyaaAllah akan segera menempuh beasiswa Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di pulau Jawa. Tes tertulis tahap satu lalu sudah dilaksanakan sekira satu bulan sebelumnya dan nama suami tercantum dalam Surat Pengumuman Kelulusan Beasiswa Internal Tahap I. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Semoga segalanya mudah juga barakah buat kami.

Saya sendiri belum genap sebulan tinggal di kota kecil ini, di Painan Sumatera Barat. Baru saja pada April kemarin saya resmi berpindah tugas ke KPPN Painan. Instansi kami, Ditjen Perbendaharaan, memiliki sebuah kebijakan tersendiri bagi pegawai suami isteri dengan status sama-sama pegawai instansi ini, di mana isteri dapat mengajukan untuk mengikuti suami dimana bertugas dengan mendahului Surat Keputusan Mutasi. Tempo kemarin, awal Maret saya mulai mengajukan pindah mengikuti suami. Surat kemudian diproses secara berjenjang, hingga akhirnya Kanwil Bangka Belitung mengeluarkan Surat Perintah Melaksanakan Tugas pada kantor baru. Bulan April kemudian saya pindah secara final untuk mengikuti suami bertugas di KPPN Painan, Kanwil Sumatera Barat.

Sebagai informasi, Surat Keputusan secara resmi dari Sekretariat Ditjen Perbendaharaan hingga saat ini belum ada. Sehingga saat ini saya berpindah dengan status sebagai Pegawai Titipan. Secara administratif saya masih pegawai KPPN Tanjung Pandan, dosir kepegawaian secara lengkap pada unit Tanjung Pandan, begitu juga dengan administrasi penggajian. Namun secara fisik dan daftar hadir, saya berada di KPPN Painan. Sistem kepindahan ini merupakan kepindahan dengan kesepakatan antar Kanwil. Jika kedua kanwil sepakat untuk saling melepas-menerima, maka sistem pegawai titipan dengan dasar mengikuti suami dapat segera dilaksanakan, dengan Surat Keputusan Mutasi Resmi dari Pusat menyusul. Alhamdulillah kebijakan instansi terkait hal satu ini begitu memudahkan. Bersyukur sekali.

Painan.. kota ini terkadang membuat saya melayangkan ingatan pada Tanjung Pandan. Painan masih menyuguhkan kemininman ketersediaan akan berbagai hal. Jika tidak mengingat tujuan ke kota ini adalah untuk membersamai suami, saya akan tetap di Tanjung Pandan. Ditambah, jarak tempuh Tanjung Pandan – Jakarta cukup dekat, 50 menit penerbangan dengan harga tiket di bilangan dua ratus ribuan. Sangat memudahkan kala ingin pulang.

Tapi tentu saja. Tanjung Pandan dengan ketersediaannya namun tanpa dibersamai suami jika dibandingkan dengan Painan dengan keminimannya tetapi dengan hadirnya suami yang selalu ada di sisi, saya tegas memilih yang kedua. Seringkali, ini bukan tentang di mana kita tinggal, tapi tentang dengan siapa kita membersamai dan dibersamai.

Tak lama lagi suami akan menempuh tugas belajarnya di Pulau Jawa, insyaaAllah. Doa demi doa terhatur tercucur untuknya, semoga Allah mengaruniainya kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang semakin baik. Sebagai istri, saya sangat mendukungnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri, termasuk dengan melanjutkan jenjang pendidikan.

Membayangkan kala suatu hari nanti saya akan ditinggalkan suami di kota kecil ini seringkali membuat resah. Sanggupkah? Dengan budaya Minang yang begitu kental yang sama sekali berbeda dengan kota sebelumnya, Painan memberikan banyak efek kejutan yang cukup berarti buat saya.

Tetapi ini bukan halangan bagi saya. Saya, akan terus berdoa yang terbaik bagi kebaikan suami, bagi keluarga kecil kami. Yakin bahwa kelak Allah akan bukakan jalan yang tidak akan kami sangka-sangka

Saya membayangkan, saya dalam posisi amat berbangga dan bahagia ketika kelak mendengar kabar bahwa suami lolos dalam seleksi beasiswa internal. Saya membayangkan, suami dalam raut wajah yang amat berbinar-binar kala melihat namanya terpampang dalam pengumuman beasiswa. Iya, saya sudah menajamkan gambaran saya. Membuatnya seolah seolah nyata dan benar-benar akan terjadi. Ini penting dalam bagian dari penggapaian mimpi dan cita-cita.

Dengannya, saya terus menghaturkan doa semoga suami dikaruniai kesempatan untuk belajar lagi melalui beasiswa tersebut. Terus, dan terus. Saya tidak akan menahannya, saya akan terus mendukungnya. Lagi dan lagi. Yang juga tak pernah saya lupakan adalah berdoa bagi diri agar mampu menjadi wanita yang kuat. Dimampukan ketika keadaan mengharuskan tinggal sendiri untuk sementara waktu. Bukankah anak-anak yang hebat selalu membutuhkan ibu yang kuat?

Semoga dimudahkan mas.. semoga dibarakahkan.

Aku akan terus mendukungmu.. Aku tidak akan menahanmu di sini..

Aku ingin menjadi sekokoh-kokoh benang untukmu layang-layangku. Layang-layang selalu ingin terbang tinggi. Teruslah berprestasi. Teruslah terbang, semakin meninggi dan semakin membumbung tinggi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s