Sharing · Tafakur

Tentang Gempa di Pagi 2 Juni

Masih ingat apa yang suami katakan tak lama sebakda gempa mengguncang kota kami pagi tadi.  “Alhamdulillah cuma 6,5 skala richter, Bunda.. Kalau 7 atau 8 richter, rumah ini bisa saja langsung roboh.”

Saya mengiyakan dalam hati, masih sedikit syok atas keterjadian gempa beberapa menit sebelumnya. Pagi ini memberikan segenggam pelajaran, bahwa manusia sangat lemah, tidak memiliki daya kontrol apapun atas seluruh yang terjadi dalam detak usia kita. Allah, dan cuma Allah yang memiliki kuasa mutlak atas segala yang ada di langit dan bumi.


Berbagai informasi kami lihat di beberapa media setelah terjadinya gempa, seperti yang saya ingat saat melihat di televisi siang hari tadi “Pagi hari pukul 05.56 WIB telah terjadi gempa berkekuatan 6.5 Skala Richter di kedalaman 62 KM Barat Daya Pesisir Selatan.”

Slash!

Pesisir Selatan. Itu kota kami.

Gempa pagi tadi adalah guncangan pertama yang saya rasakan pasca pindah ke kota ini. Tak tanggung-tanggung, gempa berpusat di 62 km barat daya Pesisir Selatan, kota tempat kami tinggal. Ini membuat rumah kami bergoyang-goyang naik-turun cukup hebat. Suami bilang kalau itu adalah salah satu goncangan dengan skala terkuat yang ia rasakan selama lima tahun tinggal di Pesisir Selatan.

Terenyuh mengingati sepotong episode pendek di menit menjelang gempa bumi.

Pukul 5.30 WIB, saya mengajak suami untuk muraja’ah hafalan, mengingat beberapa hari lagi Ramadhan datang membersamai. Suami mengangguk mengiyakan. Tetapi kemudian saya minta izin terlebih dahulu untuk mandi. Belum terjadi apa-apa saat itu. Tepat sebakda mandi saya mengenakan softlense, disebabkan minus saya yang memang sudah cukup tinggi. Dan, ya. Tepat di saat menggunakan softlense itu lah guncangan pertama hadir. Di awal skala goyangan masih terasa samar dan ringan, tetapi lalu dalam sekejap goncangan menjadi kuat. Lantai rumah tempat berpijak berguncang, naik turun bergelombang. Sejenak kemudian suami berteriak-teriak “Bunda ada gempa, bunda.. Bunda ayo cepat keluar. Bundaaa.”

Saya terkesiap.

Gempa?

Listrik mendadak mati. Gelap, seluruhnya gelap. Kegelapan itu membuat mata saya tak mampu melihat apapun. Dalam kegelapan saya berusaha sekuat tenaga memasang softlense sisi kiri yang sudah di tangan dan bersegera mencari jilbab apapun agar saya bisa segera keluar. Saya obrak-abrik seluruh pakaian di gantungan baju di balik pintu. Tapi dalam keadaan gelap seperti itu, saya kesulitan menemukannya. Guncangan semakin hebat. Lantai rumah bergoyang-goyang naik turun. Saya panik. Bagaimana ini?

Ada dilema yang luar biasa saat itu. Saat suami terus-menerus memanggil dari luar untuk bersegera keluar tapi saya dalam kondisi belum siap keluar. Saya ingin segera keluar, saya ketakutan bagaimana jika tertimpa bangunan, tapi saya tidak mau keluar dalam kondisi tanpa hijab. Tapi ini bagaimana? Tak ada sedikitpun cahaya. Seluruhnya gelap, dan saya tidak juga segera bisa menemukan pakaian. Rumah masih terus-menerus berguncang.

Di detik-detik itu, suami pada akhirnya sigap masuk ke dalam rumah lagi dan membantu menyinari kamar dengan penerangan seadanya dari gadget hingga saya bisa menemukan pakaian. Secepat kilat segera saya kenakan seluruhnya dalam keadaan rumah yang masih bergoyang-goyang naik turun. Takut dan panik bergumul menjadi satu. Kami bersegera keluar rumah. Tak saya pedulikan lagi barang-barang berharga yang ada di dalam rumah. Yang penting kami selamat dari bahaya ini.

Di luar rumah, para tetangga sudah berkumpul siaga di depan rumah masing masing.

Setelah di halaman rumah, secara bertahap intensitas kekuatan gempa semakin berkurang, melemah, hingga akhirnya perlahan-perlahan hilang. Suami mengatakan bahwa masih memungkinkan adanya gempa susulan atau peringatan tsunami. Maka setelah itu, kami terus berdiam di depan rumah, mencoba mengambil jeda dan persiapan akan kemungkinan adanya gempa susulan atau peringatan tsunami dari pemerintah setempat. Kota kami memang bersisian langsung dengan laut lepas, maka siaga tsunami juga adalah salah satu hal yang terus diwaspadai. Memang papan besar peringatan tsunami juga terpampang di jalan-jalan utama kota kami.

Di depan rumah suami mengingatkan tentang rencana awal kami tadi sebelum terjadinya gempa. Ia mengajak untuk murajaah. Kami lalu melakukan murajaah. My bad, dengan hati yang masih diliputi ketakutan, suara saya rasanya berat dikeluarkan. Lemah, lirih. Suami terus menguatkan, erat sekali mendekap dan menggenggam tangan. Tuhan, betapa dekatnya kami dengan kematian.


Dan itulah guncangan gempa yang pertama saya rasa di sepanjang usia ini. Khawatir dan takut. Semakin menyadari, betapa lemah dan tidak memiliki daya apa-apa kita.

Inilah pelajaran pertama dari guncangan di dua juni pagi tadi. Bahwa kita memiliki kebutuhan mutlak akan perlindungan dari Tuhan Sang Penggenggam Dunia. Ia yang menghadirkan ujian dan Ia juga yang memberikan perlindungan. Ia yang menghadirkan marabahaya dan cuma Ia juga yang memberikan jaminan keselamatan.

Rabbana, liputi jiwa kami dengan perlindunganMu selalu.

Perkenankan kami dan keluarga kami kembali kepadaMu dalam sebaik-baik keadaan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s