Cerita · Pengalaman · Tafakur

Banyak Hal

Memasuki penghujung triwulan tiga di tahun 2016 ini, saya semakin tersadar akan banyaknya hal yang terjadi di tahun ini. This year time flies so fast. Dari mulai masa-masa pra pernikahan yang begitu menyita pikiran, momen pernikahan itu sendiri, penyesuaian dengan status baru, meninggalkan kantor dengan tangis drama, penyesuaian satu atap dengan seorang lelaki yang awalnya terasa asing, memasuki kantor baru yang unik dan di luar dugaan, berpisah dengan suami kesayangan, sampai kembali lagi ke kantor lama sebelumnya. Iya, saya kembali lagi.

Siapa yang menyangka?

Tak ada. Pun saya.

Begitu banyak yang terjadi. Tawa, haru, kasih, tangis, kecewa, sedih, bahagia. Semua berpadu menjadi satu di tahun ini. Banyak sekali hal baru yang melingkupi hidup saya. Banyak kebaruan ini memaksa saya untuk melakukan satu hal: Percepatan penyesuaian. Penyesuaian yang diiringi kebergerakan utuh. Jika tidak, maka saya yang akan tergilas waktu dan keadaan.

Seperti saat saya kembali ke tempat ini, tempat yang sejatinya sudah saya akrabi sebelumnya. Siapa sangka, setelah berpamitan, berpelukan menahan pedih, mendapatkan surat melaksanakan tugas di tempat baru, memperoleh bingkisan kenangan, saya kembali lagi. Dan ya, di tempat baru yang sebenarnya lama ini, ternyata saya juga harus berupaya melakukan re-adjustment. Mencari tempat tinggal baru dan mengupayakan alat transportasi, berusaha mengembalikan pada state semula yang hingga kini masih belum utuh, menyesuaikan diri dengan keadaan kantor yang dirasa sudah banyak berubah. Termasuk juga, upaya penyesuaian dengan bincangan miring orang-orang di sekitar tentang kepindahan ini. Sedih, tentu. Tapi saya akan tetap kuat, tetap stable, tetap berdiri tegap. Pedih sebentar, kemudian cukupkan. Mari berkarya lagi. Maju tak gentar lagi.

Begitulah. Saya terus bersyukur melalui berbagai hal yang melingkupi saya dalam 8 bulan hingga pertengahan September di tahun 2016 ini. Seluruhnya itu, mendewasakan saya. Mempersilahkan saya untuk mengais pelajaran dan ilmu kehidupan. Seluruh kebaruan dan penyesuaian di tahun ini, mengajarkan saya arti ketangguhan hidup, dan penerimaan utuh atas kehidupan. Saya belajar, bahwa akan banyak sekali ketidaksesuaian kondisi sebagaimana yang kita inginkan dan harapkan. Tetapi hal tersebut bukan untuk menjadikan kita bersedih terlebih kufur. Kita harus tetap waras dan penuh syukur, sambil terus menghitung-hitung berbagai karunia Tuhan yang selalu membersamai kita. Rezeki yang baik, teman yang tulus ikhlas, suami yang penuh sayang, keluarga yang selalu mendoakan. Dan itulah adalah sebaik-baik karunia yang Tuhan berikan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s