Pregnancy · Sharing

Sekolah Quran Ibu Hamil #3 : Kehamilan dalam Qur’an dan Hadist

Kehamilan dalam Qur’an dan Hadist

Oleh: Usth. Maya Novita, Lc., M.A.

“Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang dan banyak melahirkan” tutur Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan dishahihkan oleh Albany. Hadits ini menyatakan bahwa Allah mewasiatkan agar menikahi wanita yang mampu melahirkan. Mampu banyak melahirkan dipandang sebagai suatu kelebihan. Karenanya, kehamilan sebagai jalan awal dari melahirkan sudah seharusnya dipandang sebagai suatu karunia dan kemuliaan khusus dari Allah.

Seorang ibu adalah sosok yang mulia, yang karenanya sang anak diminta untuk menaati dan berbuat baik kepadanya, sebagaimana firman Allah dalam Quran.

Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun.” (Q.S. Luqman: 14)

Dan Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)“  (Q.S. Al Ahqof: 15)

Tingkat kemuliaan ibu tentu berbeda satu sama lain, hal ini bergantung bagaimana sikapnya, cobaan hidupnya, termasuk bagaimana ujiannya saat hamil dahulu. Apakah ujian yang dilalui berat? Apakah kemudian disikapi dengan sabar?

Jalan menuju kemuliaan seorang ibu adalah dengan KEHAMILAN. Inilah harga pertama yang harus dibayar untuk menuju kemuliaan sosok ibu.

(Notes: sebagai pengingat untuk kita semua, ketika kita berbicara tentang kemuliaan ibu dan ayat qu’ran yang membahas tentangnya, jangan memosisikan diri sebagai ibu, seperti, “aku ini ibu lho!” Jangan seperti itu, tetapi posisikanlah diri sebagai anak. Begitulah para ulama menasehatkan. Hal ini agar kita mengambil ibrah dengan berupaya berbuat baik kepada ibu sebaik-baiknya sekaligus agar tidak berbesar diri)

KEUTAMAAN WANITA HAMIL DALAM ISLAM

  • Sesuai dengan kehendak dan mekanisme Allah.
  1. Doa nabi Ibrahim: Rabbi hablii minasshaalihiin.. “Ya Allah karuniakanlah kepadaku seorang anak yang shalih” (QS As Shafat:100). Ini menunjukkan bahwa hamil adalah jalan yang Allah ridhai, Allah perkenankan, dan Allah kehendaki, untuk meneruskan generasi manusia fil ardh.
  2. Doa nabi Zakaria: “(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadamu ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal isteriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisiMu. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yaqub, dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. (QS Maryam: 3-7)
  • Cinta Rasulullah

“..Sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya umatku di hadapan para Nabi kelak di hari kiamat.” (Shahih Riwayat Ahmad)

Perhatikan bagaimana Rasulullah berbangga dengan umatnya yang banyak. Tentu ini tidak hanya berbicara kuantitas tapi juga kualitas. Manusia yang akan menjadi umat Rasulullah adalah seorang manusia mukmin, yang unggul imannya serta senantiasa mencintai Allah dan RasulNya.

Melalui jalan hamil, kita akan mendidik anak kita kelak menjadi sosok manusia berkualitas baik, hingga menjadi umat Muhammad. Bayangkan bagaimanakah rasanya kelak, ketika anak kita termasuk dalam umat yang dibanggakan oleh Rasulullah karena imannya. :”)

Dengan pemahaman akan hal ini, kita tidak akan memandang kehamilan sebagai sebuah fase saja, tapi dengan pemaknaan lebih atas apa yang kita jalani.

Seperti sebuah kisah tentang tiga orang yang menumpuk batu bata.

Orang pertama saat sedang menumpuk batu bata ditanya, “Apa yang sedang kamu lakukan?” lalu ia menjawabnya sambil lalu, “Kamu lihat kan apa yang sedang kulakukan?!”.

Selanjutnya, orang kedua yang sedang menumpuk batu bata ditanya, “Apa yang sedang kamu lakukan? Orang kedua menjawab, “Aku sedang membangun masjid.”

Lantas terakhir, orang ketiga yang sedang menumpuk batu bata ditanya, “Apa yang sedang kamu lakukan?” Jawaban orang ketiga ini penuh makna “Aku sedang membangun suatu peradaban!”

Mereka melakukan hal yang sama, melalui fase yang sama, tapi masing-masing memaknainya dengan pemaknaan yang berbeda. Pemaknaan yang berbeda, niat yang berbeda, tentu menghasilkan keikhlasan dan pahala dari Allah yang berbeda.

  • Ladang Pahala

Banyak hadits yang mengungkapkan tentang keutamaan pahala bagi seorang wanita hamil. Semoga kita bisa memaknainya dengan sebaik-baik pemahaman.

 

FAIDAH KEHAMILAN

  • Persiapan mental untuk pada akhirnya menjalani pendidikan/tarbiyah kepada anak.
  • Kesulitan dalam kehamilan menjadi pintu banyak pahala.
  • Masa-masa sakit melahirkan, saat dikabulkannya doa, adalah berada di masa berjihad di jalan Allah. Hamil dan melahirkan adalah jihadnya wanita.
  • Meninggal saat melahirkan maka dikategorikan syahid, insyaaAllah. Syuhada adalah gelar tertinggi bersama pada nabiyyin wash shiddiqqiin.

Hal ini sebagaimana hadits berikut:

“Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah. Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam riwayat yang lain:

“Orang yang mati syahid di kalangan umatku hanya sedikit. Orang yang mati berjihad di jalan Allah, syahid, orang yang mati karena Tha’un, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena sakit perut, syahid. Dan wanita yang mati karena nifas, dia akan ditarik oleh anaknya menuju surga dengan tali pusarnya.” (HR. Ahmad dalam musnadnya 15998. Dan dinilai Shahih li Ghairih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Sesi Tanya Jawab:

Tanya:

Banyak yang mengatakan bahwa persalinan yang “berjuang” hanya persalinan normal, sedangkan persalinan Caesar tidak termasuk kategori itu. Bagaimana jika persalinan Caesar memang bukan kehendak kita? Apakah memang pahala/ganjaran bagi ibu melahirkan Caesar tidak bisa diharapkan lagi?

Jawab:

Bismillah. Memang beberapa di antara kita yang kurang tepat dalam memaknai. Bahwa perjuangan dalam persalinan itu hanya jika persalinan normal, bahwa persalinan dengan jalan c-section artinya kurang berjuang dan minim pahala berjuang.

Metode persalinan c-section, selama ia adalah pertimbangan dokter dan bukan kemauan sendiri, maka ini adalah jalan, adalah solusi. Dan ini adalah ketentuan dari Allah. Jalan keluar dari Allah berupa c-section merupakan jalan yang Allah tetapkan. Dan Allah tidak akan mendzalimi hambaNya. Bahwa pahala merupakan hak prerogative Allah.. maka tetaplah berhushudzon pada Allah.. dengan jalan apapun dengan ridha Allah, pahala akan ditetapkan selama kita meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi ketetapan..

Demikian, semoga bermanfaat.

Sumber: Sekolah Quran Ibu Hamil (SQIH) Malang – Angkatan I

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s