Uncategorized

Welcome Again

Ternyata sudah genap setahun sejak terakhir update blog ini. Banyak hal menyenangkan yang terlewatkan untuk direkam. Sayang sekali. Rumah ini sudah penuh sawang. Saya tahu, saya harus bersegera buat kembali, menyediakan waktu untuk membersihkannya, merawatnya. Banyak hal yang sebetulnya bisa dibagi: pengalaman, gagasan, rekam jejak kejadian. Setelah ini, mungkin saya akan memposting beberapa tulisan yang  teronggok… Continue reading Welcome Again

Uncategorized

Menulis!

Saya sudah janji ke diri sendiri buat nggak lagi malas-malasan nulis. Entah sudah berapa kali bikin blog, isi, tapi lalu terlupakan. Bikin – isi – terlupakan. Berulang seperti itu. Sampai lupa semua bikin di domain blog mana dan alamat apa. Jadi jangankan password; accountnya pun lupa.

Dulu sempat berpikir, memang hal sepenting apa yang akan kita dapat dari proses menulis itu? Well, menulis pasti punya rentetan manfaatnya sendiri. Tapi bukankah menulis adalah kerja membosankan yang tidak banyak menghasilkan? Duduk diam untuk secara perlahan meluapkan apa yang ada dalam pikiran melalui tuts-tuts keyboard. Bukankan lebih seru bercerita langsung? Huehehe.

Itu sekelebat pemikiran dangkal dulu. Mohon maafkan.

Sekarang saya lebih faham. Bahwa menulis adalah kerja jangka panjang: yang tentu saja berbeda dengan bercerita langsung yang sasarannya baik dari segi masa atau jangkauan person lebih bersifat terbatas.

Setelah banyak mengamati, banyak belajar mandiri, saya tahu bahwa saya harus menulis dan butuh menulis. Menulis adalah kerja besar. Mungkin ia akan terlihat ‘sia’ hasilnya jika dilihat di waktu itu juga atau jika hasil berupa tulisannya tidak dibagikan pada dunia. Tapi lihatlah, ia akan menjadi suatu hal yang penuh kebermanfaatan setelah engkau memperkenankan tulisan itu untuk  dibaca orang lain. Orang-orang yang membacanya boleh jadi terinspirasi, boleh jadi sampai pada tahap pelaksanaan, atau minimal jadi tahu. Hasilnya akan jadi konkret. Hanya butuh proses dan waktu. Sebatas itu.

Dengan menulis, sejatinya engkau menjadi bermanfaat bagi orang lain dan tentu bagi dirimu sendiri.

Nah, sekarang, ayo kumpulkan semangat juang lagi buat menulis; memberikan kontribusi; berbagi hikmah.

Kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang pandai boleh setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dalam sejarah.” 

 

 

 

Uncategorized

Ini Cerita (Prajab)ku, Mana Ceritamu?

Dulu, jauh hari sebelum pelaksanaan prajab aku berdoa agar Allah mengaruniai tempat prajab yang terbaik. Doaku; agar tetap diizinkan menggunakan bawahan rok selama kegiatan outdoor; kegiatan prajab tidak menyulitkan waktu sholat;  diizinkan dapat kawan sekamar yang shalihah. Dan, taraaa. Kekuatan doa selalu ajaib. Allah mengabulkan ketiganya. Alhamdulillah dapat lokasi Petukangan, dengan komandan pelatih yang super baik; sebelum kami sempat minta izin beliau sudah mengizinkan kami pakai rok, beliau memberikan waktu sholat yang sangat cukup bagi kami –dibandingkan MFD yang waktu sholatnya super sempit– dan aku –puji syukur Alhamdulillah– dapat teman sekamar yang shalihah-shalihah. Lihatlah dua kawan sekamarku tercinta, Dita dan Dera. Dita yang rutin shaum daud selama tiga pekan Prajab -dia peserta Prajab satu-satunya yang melaksanakan shaum daud- dan Dera, orang yang selalu kutemui tiap pagi dalam keadaan Qiyamullail tanpa terlewat satu malam pun, apapun kondisinya. Kami bertiga selalu mengusahakan buat shalat berjamaah bagaimanapun  sempitnya waktu, terutama di hari-hari awal Prajab yang super padat. Beruntungnya bisa kenal dekat sama kalian. Love both of you, DitDer! #peluk#

Nah, prajab dilaksanakan selama tiga pekan. Di pekan pertama, tiga hari awal tepatnya hari Senin, Selasa, dan Rabu adalah kegiatan Bela Negara. Full day kegiatan outdoor sama Kopassus. Kurasa aku nggak perlu menceritakan secara gamblang kegiatan di tiga hari pertama ini ya. Sebab kurang lebih kegiatannya sama kayak MFD – Samaptanya DJPB, yang sudah pernah kuceritakan sebelumnya. Guling, merayap, tiarap. Malah lebih ringan, sebab kami nggak ada nyebur-nyebur kolam, jungkir, merayap punggung, habis-habisan kayak semasa MFD sama Pelatih Soriton dulu. Baju kami sampai sore tetap “normal”. Paling coklat coklat sedikit dan basah keringat. Nggak sampai berubah jadi basah dan penuh lumpur kayak dulu. Mungkin lain cerita kalau Prajab di Lebak Bulus. Pelatih disana Pelatih Soriton. Ah, aku sudah lulus Samapta sama Pelatih Soriton, makanya nggak sama beliau lagi. Hehehe.

Hari kamis itu hari pertama masuk kelas. Pakaian putih hitam plus dasi, dengan sepatu pantofel hitam dan jilbab putih. Rasanya menyenangkan sekali, bisa masuk kelas, belajar kayak semasa kuliah dulu. Sistem belajar di kelas semasa Prajab pakai sistem diskusi, presentasi, flipchart, dan games. Suka! Kupikir, coba dari dulu sistem kuliah di STAN pakai sistem begini ya. Wah, pinter kita. Haha. Terbiasa diskusi, diajak biasa mengungkapkan pendapat, dipaksa berfikir cepat sekaligus langsung menuangkan hasil pikir kita ke dalam bentuk flipchart. Kemampuan linguistik jalan, sistematika berfikir jalan, otak kanan juga jalan. Nice! Tiap hari, minimal pasti ada satu diskusi dan satu presentasi. Dan yang nggak kalah seru, gamesnya. Menyenangkan ya kelas yang diisi dengan games. Lagi-lagi mikir, kenapa nggak dari dulu kelas diisi sama yang beginian? Haha. Seru bingit.

Anyway, aku dapat kelas H. Kelas yang diisi orang-orang yang luar biasa menyenangkan. Bangga menjadi bagian dari mereka.

Tapi kelas H juga sekaligus jadi kelas yang “ter”. Lihat aja, kelas mana yang paling sering bikin seangkatan di Petukangan kena marah dan tindakan sama Pelatih. Kelas mana yang bikin seangkatan diguling gara-gara ada laporan “buruk” dari dosen killer, kelas mana yang bikin seangkatan jalan jongkok gara-gara ada yang terlambat balik pesiar, kelas mana yang paling anarki waktu tanding benteng takeshi. Well ya, inilah kami. Kelas yang “nggak punya” ayah tapi paling kompak pembelaan dirinya -_-‘

Overall, kelas H selalu jadi kelas yang menyenangkan, banyak dapat inspirasi dari teman-teman di kelas ini :”)

Aku sangat menikmati seluruh proses diklat satu ini. Selama prajab, rasanya semakin dekat waktu penutupan malah makin sedih T^T. Nggak akan ada lagi kebersamaan sama teman-teman sekalas, nggak akan ada lagi canda tawa kebahagiaan, suka duka dihukum sama-sama, teriak lepas ramai-ramai. Nggak akan ada lagi prosesi belajar di kelas dengan kawan-kawan terbaik.

Dan akhirnya ketika hari itu tiba, hari penutupan, tepat ketika upacara penutupan dilaksanakan dan upacara resmi ditutup, nggak sengaja air mata tumpah. Huaa. Cengeng banget kamu faah. Buru-buru kuhapus, malu. Waktu itu rasanya sungguhan nggak rela dengan semua keberakhiran ini. Rasanya nyaman dan menyenangkan sekali ya diklat itu. Belajar, bersosialisasi dengan teman-teman; ketimbang harus seharian kerja di depan PC.

Sekejap sebelum pulang dan pisah satu sama lain, kami menyempatkan diri buat ngisi testimoni. Sayangnya, kami cuma punya waktu buat testi sebentar, dengan waktu yang super singkat. Sebab waktu itu diburu waktu shalat Jumat. Sedih juga, lihat testi yang minimalis T___T. Tapi nggak apa lah ya, dari pada nggak ada sama sekali.

 

Thanks, you all H-people :""
Thanks you all H-people :””

 

Terimakasih untuk tiga pekan yang luar biasa ini, temans. Terimakasih untuk tiga pekan yang full of meaning & full of blessing. Terimakasih untuk semua kebersamaan dan pelajaran berharga selama Prajab kemarin.

Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Nama kalian akan selalu kusemai dalam dihati. Semoga silaturahim kita tetap terjaga sampai kapanpun…

Tribute to teman-teman terbaik, H-people.

 

 

Bareng Pak Wendi
bersama Pak Wendi
Depan Wisma Pembina
Pasca Benteng Takeshi

 

Kelas H "Bubar"!
Kelas H bubar! =)

 

I do love you all

 

 

 

Uncategorized

Senja dan Syair Abu Nawas

Ilaahi lastu lil firdausi ahlan

Wa laa aqwa ‘ala naril jahimi

Dzunubi mitslu a’dadirrimal

Zaidun fii kulli yaum

Wa umri naqisun fi kulli yaum

Semasa di pondok, syair ini dilantunkan dari Masjid Agung Gontor lima kali sehari. Datangnya waktu shalat kami ditandai dan dimulai dengan lantunan bait syair Abu-nawas tersebut. Gema suaranya membumbung membahana ke seluruh penjuru pondok, berduyun-duyun santri dari seluruh asrama melangkahkan kaki ke Masjid, shalat berjamaah bersama ribuan santri lain, merunduk menghadap Ilahi setelah penat dengan segala aktivitas keduniaan.

Ilahi, aku tidak pantas dimasukkan dalam surga firdausMu

Tapi aku juga tak sanggup tinggal dalam nerakaMu

Dosa-dosaku bak segunung butiran pasir

Terus bertambah setiap hari

Namun usia terus berkurang setiap hari

Ada rasa yang menakjubkan di hati saat mendengar bait itu di waktu-waktu datangnya shalat, lebih-lebih di senja hari, saat waktu maghrib tiba, saat langit mulai kelam. Gema lantunan syair yang berpusat di Masjid Agung itu membahana, mengapung ke langit di senja hari, terasa syahdu.

Di keheningan suasana senja, setelah sepanjang hari diri dilibas oleh berbagai aktivitas keduniaan dan hiruk pikuk kesibukan, gemuruh syair itu seolah mengingatkan jiwa yang gersang. Jiwa merendah, mengakui diri dengan segala ketundukan akan segala dosa, betapa dosa terus bertambah setiap detik, padahal sejatinya usia kita terus berkurang setiap detik.

Syair itu dikumandangkan setiap kali menjelang shalat, tapi di senja hari, saat langit mulai gelap, saat keheningan merayap dan keriuhan menyusut, lantunan itu membuat yang mendengarnya merasakan syahdu; terbang membumbung; jatuh cinta.

Sebuah ketundukan, muhasabah, keberserahan sepenuhnya kepada Ilah Sang Penggenggam Dunia.

Syahdu, damai, seperti senja hari di langit Gontor.

 

Uncategorized

Hikmah dari Arah yang Tak Disangka

Malam itu hari Selasa, tanggal 13 Mei 2014. Seperti biasanya, saat tiba di kost setelah pulang dari kantor, aku langsung membuka pintu kamar, menyalakan kipas angin, duduk dan berisitirahat sejenak. Malam itu, aku belum melihat keadan di kamar disekitar. Keadaan yang sebenarnya sedang tidak wajar.

Tepat saat aku hendak meletakkan jilbab di atas lemari, aku baru tersadar. Kamar berantakan. Lemari terbuka lebar dengan pakaian tersibak sana-sini dan laci amburadul. Tas-tas bergeletakan tidak rapi dengan resleting terbuka. Aku yakin sekali aku tak pernah meninggalkan kamar dalam kondisi seberantakan itu. Dadaku berdegup kencang. Aku yakin sekali ada orang asing yang sempat masuk ke kamar ini, mengobrak abrik seluruh kamar dan isi lemari ini. Mencari satu-dua barang yang cukup berharga untuk dapat dibawa.

Tanpa pikir panjang aku mengobrak abrik lemari di sisi satunya, mencari barang berharga pemberian dari ummi disana. Jantungku berdebar-debar. Apakah masih ada? Apakah aman? Alhamdulillah, setelah tak lama mengobrak abrik seluruh isi lemari pakaian, aku menemukan bahwa barang berharga pemberian dari ummi masih ada. Bersyukur bahwa Allah Sang Maha Penjaga masih mempercayakan amanah barang pemberian ummi ini untukku. Rasanya shock sekali malam itu. Pasalnya, aku bingung dari mana maling itu bisa masuk ke kamar ini, sedangkan setiap hari pintu dikunci rapat dan kunci selalu kubawa ke kantor. Khawatir, penasaran, gelisah, bagaimana sebenarnya cara maling itu menerobos masuk ke kamar.

HP N*kia pemberian abi yang sengaja dikirim dari rumah, sudah jelas raib dari laci. Aku menaruhnya di laci, dan laci sudah berantakan tidak beraturan. Lalu laptop, ah ya, laptop, entah mengapa aku justru mengingat laptop di detik paling akhir, di saat temanku di sebelah kamar menyadari bahwa ternyata ia kehilangan laptopnya di kamar karena alasan yang sama: dimaling. Aku gemetar mencari laptop di sudut kamar, dan tidak kutemukan dia disana. Kucari di lemari, tempat aku biasa menyimpan, juga tak ada. Dimanakah ia.. aku mulai lemas.. aku mulai diam.. aku berusaha mengikhlaskan diri jika memang aku harus kehilangan laptop itu.. pasalnya di seluruh sudut kamar atau di lemari aku tidak menemukannya. Aku tahu persis, seluruh isi kamar dan lemari sudah digeledah dan diobrak-abrik oleh maling yang tidak berperikemanusiaan itu, aku lemas.. laptopku tidak ada.. laptopku hilang.

Aku baru ingat. Masyaa-Allah, semalam laptopku dipinjam Ika, teman satu kostku.

Apakah laptopku aman di kamar Ika? Atau sudah raib dibawa pencuri itu juga?

Setelah satu persatu kami satukost mengecek kamar masing-masing, ternyata hanya kamar paling belakang saja –kamarku dan kamar sebelahku– yang dibongkar oleh maling. Kamar di bagian depan dan tengah tidak disentuh –mungkin karena maling takut aksinya terlihat dari luar. Dan bersyukurnya, aku jadi tahu bahwa laptopku ternyata aman di kamar Ika. Kamar Ika di bagian depan. Tidak dibongkar. Tidak sempat disentuh oleh maling. AlhamduliLlaaah. Beribu-ribu syukur.

Aku merasakan betapa rahmat Allah begitu luas. Takjub pada cara penjagaan Allah yang tidak kusangka di peristiwa ini.

Sejatinya aku biasa menaruh laptop di sudut kamar atau di lemari, hanya dua itu opsinya, dan aku tahu bahwa si maling telah mengobrak abrik isi kamar dan lemariku. Tentu jika aku meletakkannya disana, ia dapat dengan mudah menemukan dan membawanya T_T

Tapi hari itu tidak. Si maling tidak berhasil menemukan laptop itu disana, di kamarku.

Semalam sebelum peristiwa itu terjadi, temanku Ika yang kamarnya di bagian depan sempat mengatakan padaku bahwa ia hendak meminjam laptop untuk sebuah keperluan. Ika tidak biasanya meminjam laptop. Sangat jarang sekali. Seingatku, itu baru yang kedua kalinya ia hendak meminjam.

Tapi waktu itu malam terus merayap dan makin larut, namun Ika tidak juga segera ke kamarku untuk mengambil laptop yang hendak ia pinjam. Aku khawatir ia lupa atau mungkin sungkan. Aku tidak tahu, jadi aku berinisiatif ke kamarnya, mengingatkan, “Ika jadi pinjam laptop kan? Gapapa ka, ambil aja. Aku nggak pake kok.” Setelah itu, berpindah tangan-lah laptop dari tanganku ke tangan Ika.

Aku tidak tahu bahwa esoknya ternyata ada maling menyelinap di kost kami, menggeledah kamar kami.

Aku tidak tahu bahwa itu ternyata cara Allah untuk menjaga laptopku, dengan memindahkannya, melalui Ika yang berhajat untuk meminjam laptop itu.

Aku tidak pernah tahu bahwa inisiatifku ke kamar Ika untuk mengingatkannya meminjam laptop, berujung pada terselamatkannya laptopku di siang esoknya. Hampir pasti, jika malam itu Ika tidak segera meminjamnya dan baru mengambilnya esok malamnya, tentu laptopku sudah raib lebih dulu.

Aku tidak pernah tau bahwa sedikit kebaikan berupa inisiatif kecil untuk meminjamkan, yang sepertinya tampak sepele dan biasa saja itu, ternyata berhikmah besar.

Aku gemetar takjub.

Allaahu Akbar.

Cara Allah selalu diluar perkiraan kita manusia.

Sungguh sekecil apapun kebaikan dan sikap peduli, selalu ada ganjaran dan hikmah yang dihadirkan oleh Allah untuk kita. Mungkin saja sang hikmah untuk dimunculkan buat kita bukan sekejap di saat itu, saat kita melakukan kebaikan itu. Tapi hikmah itu selalu ada, entah kapan. Hikmah itu selalu hadir disaat yang tepat, di waktu terbaik yang kita tidak pernah tau.

 

Uncategorized

Tahsin: Penting namun Terabaikan  

Aku termasuk terlambat dalam mengenal ilmu tahsin: semasa kuliah. Itu pun secara tidak langsung karena terpaksa untuk ikut.

Berawal dari keinginan yang sudah sejak lama meluapluap buat bisa ikut tahfizh,  melangkahlah aku waktu itu ke salah satu lembaga yang memfasilitasi program tahfizh di sekitar kampus. Kukatakan pada musyrifah disana bahwa sejak lama aku ingin menghafal quran secara intensif namun belum mampu melangkah sendiri. Masih membutuhkan lingkungan atau minimal halaqah para penghafal.

Musyrifah disana waktu itu mengatakan dengan tegas, bahwa sebelum tahfidz harus lulus program tahsin. Itu syarat utamanya. Dan, aku memang belum tahsin. Kulobi musyrifah semampuku, kukatakan bahwa aku sudah sering belajar tajwid sejak kecil. Sudah kenyang aku belajar hukum nun mati dan tanwin, macam-macam mad, tafhim tarqiq, sejak cuma di TPA sampai di pesantren. Tapi musyrifah disana menolak. Tidak bisa, katanya. Kalau memang belum pernah belajar tahsin, harus tahsin dulu. Mau tak mau. Itu syarat mutlak. Kalau tidak mau, tidak bisa mengikuti kelas tahfidz di lembaga tersebut.

Aku cuma bisa menghela nafas berat waktu itu.

Baiklah, aku ikut tahsin.

Hingga tibalah pada hari pertama mengikuti kelas tahsin, and, wow,i feel amazing. Itulah gerbang awal pertemuanku dengan tahsin. Bercampur baur rasanya antara bahagia, sedih, kecewa, takjub, sesal, syukur. Buncah bahagia, takjub, syukur, sebab masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mempelajari ilmu agung ini. Sedih, kecewa, sesal, karena ternyata betapa aku yang selama ini mengira sudah familiar dengan alquran dan ilmu tajwid sejak kecil, ternyata, masih banyak salahnya dalam kaidah pembacaan quran. Ini sungguh berbeda dengan yang kupelajari selama hidup dan belajar belasan tahun. Merasa sangat tertohok; sangat tertinggal. Mengapa dulu abi atau ummi tidak sempat memberitahuku soal ilmu membaca alquran yang satu ini. Mengapa beberapa tahun tinggal di pesantren dan aku sama sekali tidak mendapatkan ilmu ini. Bagaimana bisa, aku bisa kecolongan sepanjang dan selama ini…

Maka antusiasmeku dalam mengikuti kelas tahsin waktu itu menjadi begitu meledak-ledak. Bahkan mungkin mengalahkan teman-temanku yang lain yang sedari awal memang sudah nawaitu untuk sungguh-sungguh mengikuti tahsin itu sendiri -bukan kelas tahfidz- sepertiku.

Alhamdulillaah, ternyata keseriusan dan antusiasme yang tinggi dalam belajar sangat membantu banyak dalam ketercapaian pembelajaran. Allah memberi begitu banyak kemudahan padaku saat belajar tahsin ini, kemudahan yang mungkin melampaui kemudahan yang diterima kawan-kawan lain, sehingga prosesnya menjadi begitu lancar, hasilnya begitu nyata, dalam waktu yang bisa dibilang cukup singkat. Ditambah lagi ketika diizinkan untuk bergabung dan belajar dalam komunitas alquran di Nurul Hikmah Ciputat, dengan bimbingan langsung ustadzuna Ahmad Muzzammil MF, Alhafidz –semoga Allah senantiasa melindunginya– baik pada tahfizh maupun tahsin, yang semakin meneguhkan dan menggenapkan dalam pembelajaran ‘ilmu kalam Allah ini.

Betapa bersyukurnyaaa.

Beribu-beribu syukur atas nikmat ini.

Alhamdulillaah.

Kini, setelah sampai di titik ini, setelah sedikit-banyak tahu tentang ilmu tahsin dan ilmu tilawatul alquran itu sendiri, semakin menyadari, bahwa masih banyak kawan kerabat kita disekitar yang belum dapat membaca alquran dengan baik dan benar. Kalau lancar dan asal-yang-penting-bisa-baca, banyak. Tapi yang sesuai kaidah sungguh masih dapat dihitung jari. Masih sangat sedikit sekali.

Menyedihkan, memang. Betapa ilmu Alquran ini adalah sangat penting, namun posisinya tersudut, terabaikan. Banyak orang yang merasa lebih butuh untuk kursus bahasa inggris atau kursus matematika ketimbang mengikuti kursus tilawah dan tahsin quran. Padahal quran adalah dasar dan falsafah hidup: kitab suci diin ini. Lihatlah, betapa banyak kawan-kawan cerdas disekitar kita yang fasih berbahasa inggris, cerdas dalam bermain logika, namun terbata-bata dalam tilawah. Kini, kita tahu bahwa tugas kita pada ummat masih banyak.

Maka diantara kewajiban kita kini adalah mengabarkan pada ummat bahwa ada ilmu Allah yang begitu penting untuk dipelajari. Ada ilmu Allah yang sangat mendasar yang harus didalami, yang jauh lebih penting dan lebih mendesak dibanding ilmu lainnya.

Sungguh, tak ada yang dapat mengungguli keutamaan ilmu manapun selain ‘ilmu kalam Allah. Perumpaan keutamaan ilmu Allah atas ilmu manusia adalah sebagaimana keutamaan Allah atas makhlukNya sendiri.

Jadilah bagian dari orang-orang yang berjuang dijalan ini. Jalannya para ahlul Quraan. Jalan para prajurit penjaga Quraan.

Berjanjilah, jika ada seribu orang yang berjuang menebarkan dan mengajarkan ilmu kalamullah ini, pastikan engkau satu didalamnya. Jika ada seratus orang yang berjuang memasyarakatkan ilmu kalamullah ini, pastikan engkau satu didalamnya. Jika ada sepuluh orang yang berjuang membumikan ilmu kalamullah ini, pastikan juga engkau adalah satu didalamnya. Namun, jika hanya satu orang yang berjuang sekuat tenaga menebarkan dan menjadikan ilmu kalamullah ini menjadi dekat dan nyata, pastikan engkaulah orangnya.

Khairukum man ta’allamal quraan wa ‘allamahu.

“Sungguh, manusia paling baik diantara kamu adalah yang belajar alquran dan mengajarkannya.”

 

 

Uncategorized

DTU-MFD: Samaptanya DJPB (Part II, Let’s Rock!)

Akhirnya, setelah perjalanan kurang lebih tiga jam Jakarta-Bogor, sudah termasuk saling tunggu-menunggu dan-lain-lain, pukul 11.30 WIB sampailah kami di Gadog, Puncak, Bogor: Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan. Alhamdulillah. FYI, sebenarnya kalau lancar tanpa hambatan, by APTB, kurang dari satu setengah jam sudah bisa sampai di Gadog.

Pertama, kami diminta menunggu terlebih dahulu untuk kemudian registrasi. Setelah registrasi selesai, agenda selanjutnya adalah cek kesehatan. Kami dibagi menjadi dua kelompok besar: satu kelompok cek kesehatan di gedung Anggrek dan kelompok lainnya di gedung Anyelir. Alhamdulillah, peserta perempuan didahulukan, jadi segera setelah itu bisa prepare buat hal-hal yang lain.

Cek kesehatan selesai. Nah, seluruh peserta yang sudah selesai diminta untuk mempersiapkan velbed. Okay, kami angkat-angkat barang dan beres-beres tenda dengan dibantu teman-teman lain. MFD akan segera dimulai, guys. Aku tak sabar apa yang akan terjadi esok. Haha.

Malamnya, kami makan bersama di depan gedung Anggrek. Malam itu makan masih belum diwaktui, masih santai. MFD belum dibuka secara resmi. Setelah makan di malam itu juga, kami digiring ke lapangan tennis Pusdiklat AP. Akan ada gladi pembukaan MFD. Kami berbaris disana.

Nah, disini, sebelum gladi pembukaan dimulai, seluruh peserta perempuan yang ada disana termasuk aku diminta maju ke ujung pojok depan. Kami diminta membacakan sebuah teks susunan acara satu persatu. Bergiliran. Rupanya itu semacam ‘audisi’ pemilihan MC. Haha. Ya, daaan, setelah audisi singkat yang terpilih adalah aku. Mungkin karena suaraku paling lantang dan.. nggak tau malu -_-”

Esok paginya, Upacara Pembukaan MFD dilaksanakan. MFD resmi dibuka.

Status kami resmi menjadi siswa/i peserta samapta DJPB.

Hari itu juga, adrenalin kami dipacu habis-habisan..

Betapa itu adalah hari pertama yang membuat kami lelah, penuh lumpur, basah, kotor.

Tepat setelah apel dibuka, kami diminta berbaris dan berlari keluar lapangan untuk kemudian diarahkan ke lapangan tanah setengah becek. “Siswa, seluruhnya merayap, sekarang!!” Reflek kami saling pandang satu sama lain. Pelatih.. secepat ini? Kami belum pernah merayap sebelumnya, pelatih. Toloong. Dalam sepersekian detik, kami terdiam saat itu. Yeah but well, challenges accepted. Merayap dimulai. Dengan gaya yang entah bagaimana bentuknya, kami merayap, yang penting kami merayap-se-yang-kami-bisa. Nggak sekadar sampai disitu, setelah merayap selesai dan kami tiba di ujung lapangan, perintah selanjutnya menanti kami. Guling-guling, merayap punggung, jungkir. Bolak balik seperti itu. Sampai baju kami yang tadinya hitam berubah jadi coklat. Sampai baju kami yang tadinya kering berubah jadi setengah basah. Sampai kami yang tadinya masih bugar berubah jadi loyo.

Saat kami sedang khidmat merayap, hujan turun. Apakah prosesi jadi terhenti? Jangan harap. Pelatih justru makin semangat untuk membayat kami. Guling-guling, merayap, jungkir, merayap punggung, push up berantai. Tanah lapangan yang tadinya setengah becek kini jadi full berlumpur. Kotor, basah, bau, menggigil. Lengkap sudaah!

Nggak berhenti sampai disitu, setelah seluruh prosesi agung itu selesai, kami diminta berbaris, untuk berjalan mengitari kompleks Pusdiklat AP dengan aba-aba tertentu. Disatu waktu kami harus tiarap, kemudian lanjut berjalan, disatu waktu kami harus push-up, kemudian lanjut berjalan, disatu waktu kami harus guling, kemudian lanjut berjalan, dan seterusnya. Mual, pusing, lelah, jadi satu. Beberapa teman mulai goyah. Banyak yang keluar barisan, entah perempuan atau laki-laki, meminggirkan diri, lantas memuntahkan seluruh isi perutnya. Bahkan ada teman yang sampai pada taraf kesulitan nafas, dilarikan ke IGD saat itu juga, diberi bantuan oksigen.

Padahal baru hari pertama.

Di hari pertama itu juga kami sudah digiring ke kolam hijau yang banyak kodok dan ikan matinya. “Masuk ke kolam semua, siswa!” teriak pelatih. Well, ya. Kami nggak bisa apa-apa selain menuruti kemauan pelatih. Setelah menceburkan diri, melihat fakta bahwa air hanya setinggi dada kami, pelatih tak kehabisan akal. Kami disuruh membenamkan seluruh badan dan kepala kami ke dalam kolam. “Kalau topi belum semuanya basah, artinya kalian belum nyebur!” Baju, jilbab, sepatu, seluruhnya basah kuyup ditambah ternyata nggak boleh ganti pakaian sampai sore. Hujan juga ternyata awet mengguyur kami. Menggigil maksimal sampai sore.

Pernah juga pada suatu malam kami dibangunkan tiba-tiba dengan bunyi senapan yang mengagetkan dan memekakkan telinga. Kaget, karena itu pertama kali. Kami diminta berkumpul di dekat lapangan parkir. Aku dan beberapa teman perempuan yang lain terlambat karna repot mengenakan seluruh atribut, dihukum jalan jongkok hingga menuju lapangan. Sampai dilapangan, masih disambung dengan teriakan “Siapa yang tidak pakai kaos kaki atau pakai kaos kaki selain putih, maju ke depan!”. Oke, kaos kakiku hitam. Aku –dan banyak teman lain- maju ke depan. Dalam kondisi gelap, dingin, masih lemas, kami diperintahkan push up. Setelah itu, kami berbaris dua-dua, menyusuri gelapnya malam, di sekeliling pusdiklat AP, yang.. katanya horor itu. Beberapa titik di Pusdiklat AP merupakan lokasi yang pernah muncul di acara “Dunia Lain” di stasiun tivi, saking angkernya.

Prosesi menyusuri jalan angker di malam itu diakhiri dengan jalan jongkok di track menurun dan agak panjang. Berat. Sungguh berat. Sekujur kaki rasanya keram seluruhnya. Betapa leganya, ketika kami akhirnya sampai di ujung track, yang menandakan bahwa jalan jongkok selesai, menyisakan kaki yang gemetar dan keram. Tapi ternyata, setelah jalan jongkok kami masih diperintahkan dalam posisi push-up. Lalu bolak balik push-up, berpuluh kali. Setelah sekujur kaki yang keram gemetar sehabis jalan jongkok di track menurun, kini tangan juga ikut keram gemetar menahan seluruh badan. Lengkap sudah.

Hari-hari selanjutnya diisi dengan kegiatan yang hampir sama. Yang jelas, kami sudah mulai terbiasa dengan yang namanya merayap, jungkir, guling, merayap punggung, sit up, push up, merangkak cepat, jalan jongkok, ditambah nyebur empang. Kamis malam, sekali lagi, kami dibangunkan, bedanya, kali ini kami harus menyusuri sekeliling pusdiklat sendiri-sendiri. Gelap, tanpa senter, sepi senyap. Sepanjang perjalanan baca-baca hafalan. Allah always besides us..

Dalam sepekan pelatihan bersama Kopassus, terhitung 3x kami masuk ke kolam hijau itu. Bagiku kolam itu namanya kolam berkah. Berkah, sebab membuat kami bersyukur betapa nikmat dan berharganya baju dan sepatu yang kering. Betapa tidak, setelah kami masuk ke kolam, kami tidak dipersilahkan mengganti baju yang kering oleh pelatih. Jilbab, baju, sepatu yang basah kami kenakan hingga waktu menunjukkan petang. Aku tidak tau bagaimana dengan teman-teman yang lain, tapi yang jelas, aku sangat menggigil harus seharian pakai baju dan sepatu yang basah. Awalnya sempat khawatir masuk angin, ternyata enggak alhamduliLlah. Mungkin ini bagian dari pendidikan Kopassus kalau kita nggak boleh manja XD

Selain seluruhnya diatas, saat MFD kami juga belajar tentang materi militer tertentu, PBB, juga senam yang ‘baik’. FYI, setiap senam yang baik dan benar itu harusnya diakhiri dengan hadap serong kiri atau serong kanan, tiarap, kemudian push-up dan sit-up -_-

MFD terlalu singkat kalau harus diceritakan disini. Just come and visit.. i’ll tell you more and more. It was an interesting things. MFD terlalu indah untuk dikenang, sekaligus terlalu pahit untuk diulang. Huehehe

Jangan gundah atau gusar jika kamu suatu hari kelak mendapat kabar harus mengikuti kegiatan sejenis MFD atau samapta seperti ini. Segala hal sejatinya hanya soal mindset. Jadikan pola pikirmu selalu positif, ikhlas, maka segalanya akan jadi enteng, bahkan seru. Hal seperti ini terkadang dibutuhkan untuk melatih sikap mempertahankan hidup dan tidak mudah menyerah pada keadaan. Dinikmati, belajar hidup dalam kondisi apapun. Kata salah satu kawanku, kegiatan macem MFD  ini  tujuannya untuk melatih mental kita gimana ketika kita dalam kondisi lemah selemah-lemahnya, dikasih tugas yang nggak masuk akal. Jalani saja. Ikhlas. Nanti nggak sadar, tau-tau MFD udah mau selesai. Tau-tau udah mau upacara penutupan.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari hal apapun kalau kita jeli, termasuk dari MFD ini. Yang jelas, senang dengan adanya kegiatan ini. Jadi belajar bersyukur di segala kondisi. Jadi belajar bertahan di segala situasi. Jadi makin erat dengan kawan. Dan, jadi tau tau cara merayap dan jungkir yang benar haha #buggg. Last but not least, thanks untuk Bagian Pengembangan yang sudah buat kegiatan ini dan big thanks buat pelatih dari Kopassus yang sudah membina kami dengan ‘sepenuh hati’. Sampai jumpa di Prajab!